Wall Street tak lagi beli produk DeFi, kini pilih kuasai infrastruktur

Selasa, 24 Februari 2026

image

JAKARTA – Raksasa keuangan tradisional (TradFi) kini mengambil langkah berani dengan beralih dari sekadar menjalin kemitraan menjadi pembeli langsung token tata kelola di ekosistem Decentralized Finance (DeFi).

Fenomena ini menunjukkan bahwa para pemain besar tidak sedang berburu produk DeFi (toko) maupun menciptakan protokol baru sebagai produsen, melainkan fokus membeli dan menguasai infrastruktur dasarnya, “jalan tol kripto”, yang merupakan tempat seluruh arus produk keuangan on-chain akan lewat. Artinya, kepemilikan token tata kelola dipandang sebagai hak akses strategis atas jalur distribusi tersebut, bukan sebagai instrumen spekulasi jangka pendek.

Seperti dilaporkan theblock.co (22/02/2026), pemain kelas berat Wall Street seperti BlackRock, Citadel Securities, dan Apollo Global Management baru-baru ini mengungkap manuver agresif mereka dalam mengakuisisi token kripto.

Bukti nyata terlihat ketika BlackRock mengintegrasikan reksa dana Treasury yang ditokenisasi (BUIDL) ke jaringan on-chain melalui UniswapX sekaligus membeli token UNI.

Di saat yang sama, Citadel Securities mengakuisisi token ZRO untuk mendukung peluncuran blockchain “Zero”, sementara afiliasi Apollo sepakat memborong hingga 90 juta token MORPHO—sekitar 9% dari total pasokan—dalam empat tahun ke depan.

Berbeda dengan asumsi publik, para analis dan eksekutif investasi menegaskan bahwa pergeseran tren ini bukanlah ajang spekulasi portofolio semata, melainkan murni sebuah strategi bisnis untuk mengamankan infrastruktur distribusi.

Jake Brukhman, CEO CoinFund, menjelaskan bahwa perusahaan-perusahaan ini membeli token dari protokol spesifik yang ingin mereka gunakan sebagai jalur rel operasional, menjadikannya sebuah penyelarasan vendor (vendor alignment) alih-alih alokasi investasi murni.

Lex Sokolin dari Generative Ventures memberikan analogi bahwa firma TradFi bertindak sebagai “pabrik” pembuat produk keuangan yang ditokenisasi, sementara DeFi berfungsi sebagai “toko” distribusinya. Dengan demikian, kepemilikan token ini menjadi simbol keselarasan ekosistem yang krusial bagi peluncuran produk mereka ke pasar.

Keberanian institusi keuangan raksasa ini untuk terjun langsung ke pasar token tata kelola sangat didorong oleh kematangan infrastruktur kustodian operasional dan kejelasan regulasi yang melesat pesat dalam dua tahun terakhir.

Peneliti dari Keyrock, Amir Hajian, menyoroti rentetan kemenangan regulasi baru-baru ini, seperti pencabutan aturan akuntansi SEC (SAB 121) yang sebelumnya membebani biaya kustodian kripto, penghentian investigasi penegakan hukum terhadap Uniswap dan Aave, hingga pengesahan Undang-Undang GENIUS untuk tata kelola stablecoin.

Kepercayaan diri Wall Street juga diyakini semakin menebal seiring dengan antisipasi pengesahan Undang-Undang CLARITY, yang diproyeksikan akan memberikan kepastian struktural lebih jauh bagi pasar kripto di Amerika Serikat dan melindungi institusi dari risiko kepatuhan hukum.

Meskipun manuver institusional ini merepresentasikan pergeseran struktural yang masif, anomali terjadi ketika harga token DeFi di pasar secara umum gagal menunjukkan lonjakan yang signifikan.

Para pakar menilai reaksi pasar yang bisu ini wajar mengingat ekosistem token DeFi saat ini masih belum memiliki mekanisme penangkapan nilai (value accrual) yang menguntungkan bagi para pemegang tokennya.

Tanpa adanya aktivasi pembagian pendapatan (fee-switch) yang mengalir langsung dari kas protokol, ditambah dengan tekanan jual yang persisten dari jadwal pembukaan kunci (unlock) token milik pemodal ventura, investor institusional lain memilih bersikap pragmatis.

Namun, tokoh keuangan kawakan meyakini bahwa ketika arsitektur ekonomi token ini mulai dibenahi dan terhubung langsung dengan arus kas protokol, gelombang kedua pemain TradFi seperti Fidelity, Franklin Templeton, dan Goldman Sachs dipastikan akan segera menyusul masuk memborong protokol unggulan seperti Aave dan Ethena. (SF)