AS tarik pasukan dan senjata di pangkalan militer terbesar di Qasrak
Rabu, 25 Februari 2026

JAKARTA – Amerika Serikat melangsungkan eksodus militer besar-besaran dengan menarik pasukannya dari pangkalan utama di timur laut Suriah.
Seperti dikutip dari Al Jazeera (23/02/2026), pasukan AS tersebut direlokasi menuju kawasan otonom Kurdi di Irak utara. Pemindahan ini merupakan fase awal dari rencana penarikan total yang ditargetkan rampung dalam waktu kurang dari satu bulan.
Berdasarkan laporan di lapangan, konvoi alat berat, personel, dan truk yang mengangkut kendaraan lapis baja mulai bergerak meninggalkan Qasrak, pangkalan militer terbesar AS di Suriah.
Sumber lokal Al Jazeera menyebutkan bahwa proses ini melibatkan pemindahan peralatan berteknologi tinggi yang sangat sensitif, sehingga membutuhkan waktu berminggu-minggu untuk sepenuhnya dipindahkan ke Irak.
Penarikan dari Qasrak ini menyusul evakuasi fase pertama yang telah mengosongkan pangkalan Al-Shaddadi dan ladang minyak Al-Omar di provinsi Deir Az Zor.
Secara keseluruhan, administrasi Presiden Donald Trump telah memangkas drastis postur militernya di Suriah dari 1.500 personel pada Juli lalu menjadi sekitar 900 personel, dengan pangkalan Al-Tanf di tenggara juga telah diserahkan.
Eskalasi geopolitik menjadi motor utama di balik penarikan cepat ini. Koresponden Al Jazeera, Ayman Oghanna, melaporkan pandangan para pakar bahwa rentannya posisi pangkalan AS terhadap potensi serangan balasan dari Iran menjadi alasan utama.
Kekhawatiran akan pecahnya konflik terbuka dengan Teheran ini juga yang memaksa AS mengevakuasi ratusan tentaranya dari Pangkalan Udara Al Udeid di Qatar—yang terbesar di kawasan—serta dari fasilitas Armada Kelima Angkatan Laut AS di Bahrain pada pekan lalu.
Di samping ancaman eksternal, lanskap politik internal Suriah juga memaksa Washington mengubah strateginya. Pasukan Demokratik Suriah (SDF) pimpinan Kurdi, yang selama bertahun-tahun menjadi ujung tombak AS melawan ISIS, kini telah melemah dan menyepakati integrasi dengan tentara nasional Suriah.
Perubahan haluan ini terjadi seiring langkah Trump yang mulai membangun hubungan diplomatik dengan Presiden Suriah Ahmed al-Sharaa, menyusul runtuhnya rezim Bashar al-Assad pada Desember 2024 lalu.
Di tengah masa transisi kekuasaan dan penarikan pasukan asing ini, sel-sel tidur teroris kembali menebar ancaman. Kantor berita SANA melaporkan bahwa empat personel keamanan Suriah tewas dalam serangan mematikan yang didalangi oleh ISIS di kota utara Raqa, menandakan bahwa ancaman ekstremisme masih membayangi wilayah yang baru saja diambil alih oleh Damaskus tersebut. (SF)