IHSG rawan koreksi, sentimen Wall Street dan komoditas jadi penopang

Rabu, 25 Februari 2026

image

JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan bergerak variatif pada perdagangan Rabu (25/2), setelah melemah 1,37% ke level 8.280,83 pada perdagangan Selasa.

Seperti disampaikan IDNFinancials.com sebelumnya, saham-saham dari sektor teknologi menghadapi tekanan paling signifikan saat hampir semua sektor melemah.

Sedangkan nilai tukar rupiah juga melemah ke Rp16.829 per dolar Amerika Serikat (AS) di pasar spot, sejalan dengan penguatan dolar di tengah ketidakpastian kebijakan tarif terhadap mayoritas mata uang Asia.

Secara teknikal, analis Phintraco Sekuritas melihat peluang koreksi lanjutan pada IHSG masih terbuka. Sebagaimana terlihat pada histogram MACD yang mulai melemah dan Stochastic RSI yang membentuk death cross di area overbought.

“Sehingga diperkirakan koreksi IHSG berpotensi berlanjut dan menguji level support di 8.200-8.250,” jelas analis Phintraco, dalam catatan yang disampaikan hari ini.  

Senada dengan pandangan tersebut, riset divisi ritel CGS International menilai penguatan indeks saham di Wall Street berpotensi jadi sentimen pendukung bagi IHSG. Selain itu, kenaikan harga komoditas inti seperti batu bara, timah, nikel, serta tembaga, dinilai berpeluang jadi penopang indeks.

“IHSG diprediksi akan bergerak bervariasi cenderung menguat dengan kisaran support 8.175/8.070 dan resist 8.385/8.490,” jelas analis CGS International.

Pada perdagangan Selasa kemarin, indeks Dow Jones menguat 0,76%. Sedangkan Nasdaq Composite naik 1,05% dan S&P 500 naik 0,77%.

Di pasar komoditas, harga emas di pasar spot turun 1,37%. Namun harga logam lain seperti timah naik 2,49%, nikel naik 4,22%, dan tembaga naik 2,12%. (KR)