China borong kedelai AS terbesar dalam 2 tahun, harga melonjak
Senin, 24 November 2025

JAKARTA - Pasar komoditas pertanian global mencatatkan pergerakan signifikan pekan ini setelah China melakukan pembelian kedelai Amerika Serikat dalam jumlah terbesar selama lebih dari dua tahun terakhir.
Langkah strategis ini menandai potensi dimulainya kembali program pembelian akselerasi oleh Beijing, setelah importir utama dunia tersebut sempat menghindari pasokan dari AS selama berbulan-bulan akibat ketegangan perang dagang dengan Washington.
Transaksi ini langsung memicu lonjakan harga panen dan mendorong gelombang penjualan oleh petani AS yang selama ini menahan stok mereka.
Seperti dilansir dari reuters.com (22/11), Kementerian Pertanian AS (USDA) mengonfirmasi penjualan sebesar hampir 1,6 juta metrik ton ke China hanya dalam waktu tiga hari. Meskipun angka ini masih jauh dari target 12 juta ton yang diklaim oleh Menteri Keuangan AS Scott Bessent telah disepakati Beijing hingga akhir tahun, sentimen pasar bereaksi positif.
Harga kontrak berjangka (futures) kedelai di bursa Chicago (CBOT) melonjak ke titik tertinggi sejak Juni 2024. Kenaikan ini membuat kedelai AS diperdagangkan dengan harga premium yang tajam dibandingkan pesaing utamanya, Brasil, dengan selisih mencapai sekitar 50 sen per gantang (bushel) untuk pengiriman Januari, menjadikan kedelai AS kurang kompetitif bagi pembeli lain seperti Turki dan Vietnam.
Dinamika pembelian ini menciptakan tantangan logistik tersendiri bagi China. Analis mencatat bahwa Beijing sebenarnya tidak membutuhkan tambahan kedelai mendesak karena telah melakukan pembelian besar-besaran dari Amerika Selatan sebelumnya. Untuk mengakomodasi pengiriman baru dari AS ini, China dipaksa untuk mengosongkan sebagian cadangan nasionalnya.
Sementara itu, target pembelian 12 juta ton yang disebut disepakati pasca pertemuan Presiden Donald Trump dan Presiden Xi Jinping di Korea Selatan Oktober lalu dinilai ambisius oleh para pengamat. Dan Basse, Presiden AgResource Co., menyatakan keraguannya bahwa volume sebesar itu dapat terealisasi penuh sebelum pergantian tahun, mengingat sempitnya jendela waktu.
Dari sisi mekanisme pasar, lonjakan harga ini juga dipengaruhi oleh strategi lindung nilai (hedging) yang canggih dari para pedagang China.
Analis Midwest Market Solutions, Brian Hoops, menjelaskan bahwa importir China telah mengambil "posisi beli" (long positions) pada kontrak berjangka jauh hari sebelumnya saat harga masih rendah di kisaran US$10 per gantang.
Ketika pembelian fisik diumumkan dan harga melonjak, mereka melikuidasi posisi berjangka tersebut untuk mengambil keuntungan, yang pada gilirannya memberikan tekanan balik terhadap harga kontrak berjangka Januari. Namun, data posisi pedagang yang akurat saat ini sulit diakses karena tertundanya laporan Komisi Perdagangan Berjangka Komoditas (CFTC) akibat penutupan pemerintahan (government shutdown) di AS.
Bagi petani Amerika Serikat, reli harga ini menjadi momentum untuk memperbaiki arus kas setelah berjuang dengan harga rendah sepanjang musim panas dan panen musim gugur. Diperkirakan petani telah menjual sekitar 30 persen hingga 40 persen dari panen 2025 mereka merespons kenaikan harga ini.
Meski demikian, ketidakpastian masih membayangi terkait janji bantuan pemerintah. Pemerintahan Trump sebelumnya diekspektasikan akan mengumumkan paket bantuan hingga US$15 miliar bagi petani yang terdampak perang dagang dan harga rendah, namun realisasi paket tersebut tertunda akibat penutupan pemerintahan, meskipun Menteri Pertanian Brooke Rollins menjanjikan detailnya akan segera diumumkan. (SF)