Bain & Co: Tekanan industri private equity global lampaui krisis 2008

Rabu, 25 Februari 2026

image

JAKARTA — Bain & Company dalam laporan terbaru mengungkapkan kinerja industri private equity global mengalami tekanan berkepanjangan dan dinilai lebih berat dibanding krisis keuangan 2008.

Selama empat tahun berturut-turut, private equity mengembalikan keuntungan yang semakin kecil kepada investor. Di saat yang sama, industri ini menumpuk aset belum terjual (unsold assets) senilai US$3,8 triliun.

Seperti dikutip Bloomberg, rasio distribusi terhadap nilai aset bersih (distribution to net asset value/NAV) bertahan di 14% pada tahun lalu, menjadi level terendah kedua sejak krisis finansial global 2008.

Meski nilai transaksi pada 2025 tercatat naik 44% menjadi US$904 miliar dibanding tahun sebelumnya, peningkatan tersebut belum cukup signifikan untuk mengurangi besarnya dry powder atau dana siap investasi yang masih melimpah.

Sebaliknya, jumlah transaksi justru turun 6% menjadi 3.018 kesepakatan. Salah satu transaksi terbesar tahun lalu adalah akuisisi senilai US$56,6 miliar terhadap Electronic Arts.

Rebecca Burack, Head of Global Private Equity Practice di Bain, mengatakan ketidakpastian akibat kebijakan tarif “Liberation Day” yang diumumkan Presiden Donald Trump sempat menahan laju aktivitas transaksi yang sebelumnya sangat agresif di awal tahun.

Lonjakan exit dan penggalangan dana sempat terjadi pada 2021, didorong stimulus besar-besaran selama pandemi. Namun sejak 2022, kenaikan suku bunga global memperlambat transaksi sekaligus menekan kemampuan manajer investasi untuk mendistribusikan keuntungan kepada investor.

Pada 2025, fundraising private equity turun 16% menjadi US$395 miliar, menandai penurunan selama empat tahun berturut-turut. Meski demikian, minat investor terhadap dana infrastruktur dan pasar secondary tercatat meningkat.

Laporan Bain juga menunjukkan bahwa aliran modal private equity global kini bergerak lebih selektif, dengan investor menargetkan tingkat pengembalian internal (internal rate of return/IRR) bersih di atas 20%. Dalam konteks tersebut, daya tarik pasar negara berkembang tidak lagi semata ditentukan oleh potensi pertumbuhan (growth story), melainkan oleh kualitas eksekusi operasional, tata kelola perusahaan, serta kejelasan jalur exit bagi investor.

Bain mencatat bahwa tekanan utama industri private equity secara global berasal dari tersendatnya exit, seiring sulitnya melepas aset portofolio di tengah kondisi pasar yang belum sepenuhnya kondusif.

Jika sebelumnya pertumbuhan EBITDA sekitar 5% per tahun sudah cukup, kini dibutuhkan pertumbuhan mendekati 12% per tahun selama lima tahun untuk menghasilkan imbal hasil yang setara.

Bain juga mencatat banyak manajer telah menjual aset-aset terbaiknya, sementara aset dengan prospek yang lebih tidak pasti semakin sulit dilepas. Saat ini, perusahaan private equity global memegang sekitar 32.000 perusahaan portofolio, dengan rata-rata masa kepemilikan mencapai tujuh tahun, naik dari kisaran lima hingga enam tahun pada 2021.

Meski menghadapi tekanan struktural, private equity dinilai tetap menjadi instrumen investasi yang relatif kuat karena menawarkan diversifikasi yang semakin terbatas di pasar publik.

>> Siapa Bain & Company?

Bain & Company adalah firma konsultan manajemen global yang berbasis di Boston, Amerika Serikat. Didirikan pada 1973, Bain dikenal sebagai salah satu konsultan strategi terkemuka dunia, dengan klien yang mencakup perusahaan multinasional, lembaga keuangan, sovereign wealth fund, serta perusahaan private equity terbesar secara global.

Dalam industri private equity, Bain memiliki praktik khusus yang mendampingi manajer investasi mulai dari tahap due diligence, perumusan strategi akuisisi, peningkatan kinerja operasional perusahaan portofolio, hingga perencanaan exit. Pengalaman luas dan akses data industrinya membuat laporan Bain kerap dijadikan rujukan utama untuk membaca arah dan kesehatan industri private equity global. (DH)