Biayai fiskal ekspansif, pemerintah utang lagi dengan 'Dim Sum Bond'
Rabu, 25 Februari 2026

JAKARTA – Indonesia mulai memasarkan 'Dim Sum Bonds' atau obligasi bedenominasi yuan di luar negeri, penerbitan kedua dalam empat bulan, sebagai uji kepercayaan investor global di tengah kekhawatiran mengenai kondisi fiskal negara di ekonomi terbesar Asia Tenggara.
Pemerintah menargetkan penawaran obligasi dalam tiga tenor, yaitu tiga, lima, dan 10 tahun, menurut sumber yang mengetahui rencana tersebut.
"Pemerintah juga kemungkinan akan menawarkan obligasi berdenominasi euro pada tahap berikutnya," kata sumber yang meminta identitasnya dirahasiakan, seperti dikutip Bloomberg, Rabu (25/2).
Penerbitan ini menandai kembalinya Indonesia ke pasar Dim Sum Bonds setelah penjualan perdananya pada Oktober lalu, memanfaatkan biaya pinjaman dalam mata uang Tiongkok yang rendah.
Meski Indonesia telah mendiversifikasi sumber pendanaannya dalam beberapa tahun terakhir, langkah ini juga bertujuan meyakinkan investor global setelah pasar mengalami volatilitas dan pengawasan terhadap keuangan publik negara yang meningkat.
Lionel Priyadi, Ahli Strategi Makro di Mega Capital, menyatakan, mandat obligasi global baru menunjukkan Kementerian Keuangan mempertahankan kebijakan fiskal ekspansif karena diperkirakan akan meningkatkan pengeluaran pada Februari dan Maret 2026.
Ia memperkirakan total hasil dari obligasi yuan dan euro akan mencapai US$3–4 miliar, sebagian untuk membiayai kembali obligasi yang jatuh tempo tahun ini.
Kekhawatiran atas kesehatan fiskal meningkat setelah Indonesia mencatat defisit anggaran yang jarang terjadi pada Januari, menyusul percepatan pengeluaran pemerintah untuk mendukung pertumbuhan ekonomi.
Moody’s Ratings menurunkan prospek peringkat kredit Indonesia menjadi negatif awal bulan ini karena risiko terhadap stabilitas fiskal.
Meski penurunan peringkat Moody’s sempat memicu aksi jual singkat aset Indonesia, hal itu mengikuti penurunan terburuk saham lokal dalam hampir tiga dekade pada akhir Januari setelah MSCI memperingatkan bahwa pasar ekuitas negara ini berpotensi diturunkan menjadi pasar negara berkembang.
Empat bulan lalu, Indonesia berhasil mengumpulkan enam miliar yuan melalui Obligasi Dim Sum pertamanya.
Tren penerbitan obligasi dim sum terus meningkat, menunjukkan popularitas yuan yang kian berkembang dalam keuangan global. Beijing mendorong penjualan obligasi luar negeri ini sebagai bagian dari strategi jangka panjang untuk menjadikan yuan sebagai mata uang utama dunia. (DK)
Terkait: Indonesia terbitkan 'Dim Sum Bond' perdana senilai 6 miliar yuan