Trader sebut minyak Iran masuk China pakai label Indonesia

Senin, 24 November 2025

image

JAKARTA - Data perdagangan energi antara China dan Indonesia menunjukkan anomali statistik yang mencolok, memicu dugaan kuat adanya praktik pengelabuan asal usul minyak mentah untuk menghindari sanksi internasional.

China tercatat mengimpor minyak mentah dalam jumlah besar yang diklaim berasal dari Indonesia tahun ini, sebuah tren yang menurut para pedagang (traders) merupakan taktik baru untuk menyamarkan pengiriman minyak mentah Iran yang terkena sanksi Amerika Serikat di tengah pengetatan pengawasan terhadap kargo yang berasal dari Malaysia.

Seperti dilansir dari reuters.com (21/11), data Bea Cukai China pada Kamis menunjukkan impor minyak mentah dari Indonesia melonjak drastis dari kurang dari 100.000 metrik ton pada 2024 menjadi 9,81 juta ton (setara 235.570 barel per hari) sepanjang tahun ini hingga Oktober. Namun, angka ini bertolak belakang dengan data resmi Bea Cukai Indonesia.

Data Indonesia menunjukkan total ekspor minyak mentah negara tersebut hanya sebesar 1,7 juta ton antara Januari hingga September. Dari jumlah tersebut, tercatat hanya sekitar 25.000 ton yang secara resmi dikirim ke China.

Kesenjangan data yang masif ini mengindikasikan bahwa jutaan ton minyak yang masuk ke China "berlabel" Indonesia sebenarnya tidak pernah berasal dari ladang minyak Indonesia.

Pergeseran label ini terjadi seiring dengan meningkatnya pengawasan perbankan terhadap dokumen asal Malaysia, yang selama ini menjadi hub transit utama (trans-shipment) bagi minyak Iran. Impor China dari Malaysia tercatat turun hampir separuh sejak puncaknya pada Maret lalu.

Menurut sumber pedagang, bank-bank mulai menolak dokumentasi yang menunjukkan Malaysia sebagai negara asal, memaksa para pelaku pasar mencari asal deklarasi alternatif. Indonesia kini muncul sebagai opsi yang dianggap lebih lunak, meskipun praktik pemindahan muatan antarkapal (ship-to-ship transfer) untuk minyak Iran tersebut dilaporkan masih tetap berlangsung di perairan Malaysia.

Analis dari Rystad Energy, Pankaj Srivastava, menilai bahwa dengan adanya kesepakatan pasokan energi AS-Indonesia dan rencana pembangunan kilang di tanah air,

Indonesia mungkin dianggap sebagai sumber yang lebih aman secara administratif dibandingkan Malaysia saat ini. Meski demikian, pelabelan ini bersifat dinamis dan dapat berubah sewaktu-waktu jika pengawasan diperketat.

Data dari grup analitik Kpler memperkuat dugaan ini, mencatat bahwa dalam sepuluh bulan pertama tahun ini, China telah mengimpor lebih dari 57 juta ton minyak mentah asal Iran atau yang diduga asal Iran, di mana mayoritasnya dipindahkan melalui mekanisme transfer antarkapal yang mengaburkan asal usul aslinya. (SF)