PPN DTP diperpanjang, BSDE bidik marketing sales Rp10 triliun di 2026

Rabu, 25 Februari 2026

image

JAKARTA – PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE), pengembang kota mandiri dan terintegrasi BSD City, memasang target prapenjualan atau marketing sales 2026 di level Rp10 triliun, relatif tak berubah dari target dan realisasi 2025.

“Target prapenjualan 2026 kami tetapkan secara prudent dengan memperhatikan prospek industri properti 2026 serta pencapaian kinerja tahun 2025,” ujar Hermawan Wijaya, Direktur BSDE, dalam siaran resmi, Rabu (25/2).

BSDE mencatatkan prapenjualan tumbuh 3% secara tahunan menjadi Rp10,04 triliun pada 2025, terutama ditopang segmen residensial, yang berkontribusi 42%.

Sejalan dengan itu, BSDE juga menargetkan segmen residensial sebagai penggerak capaian prapenjualan 2026 dengan target Rp5 triliun, atau 50% dari total target tahun ini.

“Diikuti masing-masing segmen komersial sebesar Rp3,50 triliun atau setara 35% dan lain-lain sebesar Rp1,50 triliun atau setara 15% dari target prapenjualan 2026,” imbuh manajemen.

Proyek BSD City masih menjadi unggulan Perseroan dalam menggenjot prapenjualan. Segmen residensial di kawasan tersebut ditargetkan mencatat prapenjualan Rp1,6 triliun, diikuti segmen komersial sebesar Rp1,8 triliun.

Lebih lanjut, segmen residensial Nava Park dan Grand Wisata masing-masing diproyeksikan berkontribusi sebesar Rp1 trilliun dan Rp700 miliar.

Untuk segmen komersial, BSDE mengandalkan kawasan komersial di berbagai township di luar BSD City, serta Apartemen Southgate, yang diharapkan menyumbang prapenjualan masing-masing Rp950 miliar dan Rp200 miliar.

Selain itu, PT Suryamas Dutamakmur Tbk (SMDM), anak usaha BSDE, diproyeksikan ikut menyumbang sekitar 3,5% dari total target prapenjualan 2026, didukung tiga proyek utamanya: Rancamaya, Royal Tajur, dan Harvest City.

“Kami melihat prospek 2026 tetap positif dengan dukungan kebijakan pemerintah yang suportif,” ujar Hermawan dengan optimis.

Hal ini mengingat pemerintah yang telah memperpanjang PPN DTP 100% bagi rumah tapak dan apartemen siap huni hingga Rp5 miliar, yang dinilai akomodatif bagi industri properti Indonesia. (ZH)