Yield dekati 7%, lelang SBSN tunjukkan posisi tawar pemerintah turun?

Rabu, 25 Februari 2026

image

JAKARTA – Pemerintah berhasil menghimpun dana sebesar Rp20 triliun melalui lelang delapan seri Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) atau sukuk yang digelar pada 24 Februari 2026.

Berdasarkan keterangan Direktorat Jenderal Pembiayaan dan Pengelolaan Risiko (DJPPR), total penawaran yang masuk dalam lelang tersebut mencapai Rp35,61 triliun. Penyerapan terbesar berasal dari seri SPNS23112026 dengan nominal Rp6,25 triliun dari penawaran Rp6,35 triliun dan imbal hasil rata-rata tertimbang 4,80000%.

Sementara itu, seri tenor panjang PBS038 diserap sebesar Rp3,45 triliun dengan imbal hasil rata-rata tertimbang 6,70000% dan jatuh tempo pada 15 Desember 2049, diikuti PBS030 sebesar Rp3,25 triliun dengan yield 5,20974%.

Menurut seorang pengamat, di balik keberhasilan teknis lelang, data menunjukkan adanya pergeseran dinamika pasar yang signifikan.

Perbandingan dengan hasil lelang SBSN 3 Februari 2026 mengindikasikan melemahnya posisi tawar pemerintah di hadapan investor.

Pada awal Februari, pasar masih sangat agresif, tercermin dari seri PBSG002 yang mencatat bid-to-cover ratio ekstrem sebesar 17,45 dengan yield 6,15%.

Namun, 2 minggu kemudian pada lelang 24 Februari, seri tersebut tidak lagi muncul, dan penyerapan justru bergeser ke instrumen jangka pendek seperti SPNS23112026 dengan rasio permintaan turun ke level kritis 1,02.

Fenomena penting terlihat pada PBS030, di mana lonjakan minat dari bid-to-cover 1,86 menjadi 3,35 tidak diikuti penurunan yield yang berarti, yang hanya terkoreksi tipis dari 5,24% menjadi 5,20%, menandakan investor telah menetapkan batas bawah harga yang lebih tinggi.

Tekanan harga semakin jelas pada seri tenor panjang, di mana yield mulai mendekati level psikologis 7%. Seri PBS038 dimenangkan pada imbal hasil 6,70000%, sementara PBS005 mencatat yield 6,62115% dan PBS034 naik menjadi 6,43218%.

"Kenaikan yield ini terjadi bersamaan dengan mengecilnya bid-to-cover ratio, mengindikasikan bahwa investor menuntut premi risiko yang lebih besar untuk menahan surat utang jangka panjang."

Kondisi tersebut mengonfirmasi terjadinya proses penetapan ulang harga risiko (risk repricing) yang bersifat struktural, bukan sekadar fluktuasi jangka pendek.

“Pemerintah tetap mampu menjaga target pembiayaan, namun harus menerima biaya berutang yang lebih mahal, seiring meningkatnya  selektivitas investor di pasar SBSN.” (DK/MT)

Tabel Hasil Lelang SBSN

>> Lelang 24 Februari 2026

Seri SPNS06042026   SPNS10082026   SPNS23112026   PBS030   PBS040  PBS034   PBS005   PBS038

Yield       4,45%                   4,6%                  4,8%                 5,20%       5,6%       6,4%       6,62%      6,7%

BTC       1,33                       1,02                   1,02                  3,35           2,48        1,39         1,34        2,62

>> Lelang 10 Februari 2026

Seri SPNS09032026   SPNS10082026   SPNS12102026    PBS030   PBS040  PBSG02   PBS034  PBS038

Yield      4,4%                      4,5%                  -                        5,24%        5,64%    6,15%       6,37%    6,72%

BTC      3,09                        1,55                   -                        1,86            6,38       17,45        4,18       2,50

*) BTC atau bid-to-cover ratio  adalah perbandingan antara total penawaran investor dengan jumlah surat berharga yang dimenangkan pemerintah dalam satu lelang. 

 

Terkait:  Permintaan lelang SUN melemah, yield naik dekati 7%