Amerika akan umumkan tarif 15% jika diperlukan, China tetap 35–50%
Kamis, 26 Februari 2026

JAKARTA - Presiden AS Donald Trump akan menaikkan tarif global menjadi 15%, jika dianggap perlu, dalam beberapa hari ke depan.
Kebijakan itu disampaikan oleh Perwakilan Dagang AS Jamieson Greer, menyusul penerapan tarif dasar 10% yang mulai berlaku pekan ini.
“Jadi saat ini, seperti yang telah kita bahas, angka 10% masih berlaku. Akan ada pengumuman yang menaikkannya menjadi 15% jika dianggap perlu,” kata Greer di Bloomberg Television.
Dikutip Bloomberg (25/02), kebijakan ini muncul setelah Mahkamah Agung membatalkan skema “tugas timbal balik” Trump.
Pemerintah Amerika kini menggunakan Section 122 dari Trade Act 1974 untuk menerapkan tarif hingga 150 hari tanpa persetujuan Kongres, sembari menyiapkan dasar hukum lain untuk tarif yang lebih permanen terhadap negara atau sektor tertentu, termasuk dengan Indonesia, yang menerima tarif AS sebesar 19% dan membuka akses pasar bagi produk AS.
Pemerintah AS akan menilai kesesuaian kebijakan Indonesia dengan komitmen yang telah disepakati sebelum menentukan tarif lanjutan.
Greer menegaskan kenaikan tarif tidak dimaksudkan untuk melanggar perjanjian dagang yang telah disepakati, termasuk dengan Uni Eropa dan Inggris.
“Intinya adalah untuk menciptakan kembali kebijakan yang telah kita kembangkan selama setahun terakhir, untuk memberikan kesinambungan dan mampu berada dalam posisi di mana kita dapat menghormati kesepakatan tersebut, tetapi juga memiliki mekanisme penegakan hukum yang tersedia,” ujarnya.
Pemerintah Inggris menyatakan kerangka perdagangan dengan AS tetap berlaku. Menteri Bisnis dan Perdagangan Inggris, Peter Kyle, mengatakan ia berharap tarif 10% tetap dipertahankan.
Terkait China, Greer menyebut tarif barang asal China akan dipertahankan di kisaran 35% hingga 50%, tergantung produk.
“Kami memperkirakan level tersebut akan tetap berlaku. Kami tidak berniat untuk meningkatkan ketegangan lebih dari itu. Kami bermaksud untuk benar-benar berpegang pada kesepakatan yang telah kami buat sebelumnya,” katanya di Fox Business. Trump dijadwalkan bertemu Presiden Xi Jinping pada akhir Maret atau awal April untuk membahas perpanjangan gencatan tarif.
Sementara itu, pembahasan mengenai perjanjian dagang Amerika Utara atau United States-Mexico-Canada Agreement (USMCA) masih berlangsung. Greer menyebut negosiasi dilakukan terpisah dengan Kanada dan Meksiko untuk memperbaiki celah dalam perjanjian, bukan menulis ulang keseluruhan kesepakatan.
“Bukan rahasia lagi,” kata Greer mengenai laporan bahwa Trump sempat mempertimbangkan untuk keluar dari USMCA.
“Presiden sudah sangat jelas tahun ini bahwa dia prihatin dengan kinerja USMCA, dia merasa kita tidak seharusnya hanya mengesahkan perjanjian ini begitu saja.”(DH)