Utang dunia melonjak US$29 triliun setahun, IIF ingatkan risiko fiskal
Kamis, 26 Februari 2026

JAKARTA - Institute of International Finance (IIF) melaporkan total utang global mencapai rekor US$348 triliun pada akhir 2025. Dalam 12 bulan terakhir, utang dunia bertambah hampir US$29 triliun, menjadi laju kenaikan tercepat sejak puncak pandemi COVID-19.
Dikutip reuters (25/02), IIF mencatat lonjakan tersebut terutama didorong oleh peningkatan belanja pemerintah, dengan fokus bergeser dari bantuan sosial ke pembiayaan pertahanan dan infrastruktur strategis. Negara-negara meningkatkan pinjaman untuk memperkuat ketahanan nasional di tengah meningkatnya risiko geopolitik global.
Kontributor utama kenaikan utang berasal dari negara maju, termasuk Amerika Serikat, Perancis, Jerman, dan Inggris. Di pasar berkembang, Tiongkok dan Brasil mencatat penambahan utang publik terbesar setelah fase restrukturisasi.
Tren tersebut berlanjut hingga awal 2026, ditandai dengan rekor penerbitan obligasi pemerintah pada Januari.
Permintaan investor yang kuat memungkinkan negara-negara memperoleh pendanaan jangka panjang, meski volatilitas pasar global masih tinggi. Namun, IIF mengingatkan bahwa ketergantungan pada pembiayaan utang untuk belanja non-produktif berisiko mempersempit ruang fiskal ke depan.
IIF juga menyoroti rasio utang terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) global kembali meningkat. Pertumbuhan ekonomi yang mulai stabil di sejumlah kawasan belum mampu mengimbangi laju penambahan utang, sehingga memperbesar beban pembayaran bunga dalam anggaran negara.
Direktur Pelaksana IIF memperingatkan risiko jangka panjang terhadap keberlanjutan fiskal. Ia menyatakan, “Pergeseran belanja ke arah pertahanan dan ketahanan nasional menciptakan tekanan baru pada struktur utang global, yang jika tidak dikelola dengan hati-hati, dapat memicu kerentanan pada sistem keuangan internasional.” (DH)