Sewa data center US$1 triliun, Moody’s ingatkan hyperscaler
Kamis, 26 Februari 2026

JAKARTA - Moody’s Ratings menyoroti meningkatnya risiko finansial dalam pembangunan infrastruktur kecerdasan buatan (AI), seiring melonjaknya komitmen sewa pusat data oleh perusahaan teknologi global.
Lima raksasa teknologi (hyperscaler), Amazon, Meta, Alphabet, Microsoft, dan Oracle, tercatat memiliki komitmen sewa pusat data masa depan senilai total US$662 miliar.
Nilai tersebut merupakan bagian dari kewajiban sewa jangka panjang yang hampir mencapai US$1 triliun hingga akhir 2025.
Dikutip fortune (25/02), dalam laporannya, Moody’s menekankan adanya kewajiban off-balance sheet, yakni komitmen sewa yang belum tercatat dalam neraca keuangan.
Sesuai standar akuntansi, kewajiban tersebut baru diakui setelah pusat data mulai beroperasi atau diserahterimakan. Meski demikian, Moody’s mengategorikannya sebagai “utang implisit” yang berpotensi menekan profil kredit perusahaan ke depan.
Risiko terhadap peringkat kredit diperkirakan meningkat ketika pusat-pusat data tersebut mulai beroperasi secara luas. Saat kewajiban sewa masuk ke neraca, tingkat utang yang disesuaikan diproyeksikan melonjak signifikan. Kondisi ini dapat membatasi fleksibilitas keuangan apabila pertumbuhan pendapatan dari bisnis AI tidak sejalan dengan kenaikan beban utang.
Skala investasi infrastruktur AI dinilai belum pernah terjadi sebelumnya. Moody’s memperkirakan belanja investasi pusat data oleh perusahaan teknologi dapat mencapai sekitar US$500 miliar pada 2026. Secara kumulatif, belanja modal infrastruktur digital diproyeksikan menembus US$3 triliun dalam lima tahun ke depan.
Moody’s juga menyoroti jeda waktu antara pengeluaran modal dan realisasi pendapatan AI, yang diperkirakan berkisar dua hingga tiga tahun. Jika adopsi AI tidak memenuhi ekspektasi pasar, konsentrasi beban utang pada sejumlah kecil perusahaan berpotensi memicu tekanan finansial yang lebih luas.
Senior Vice President di Moody’s Ratings, Raj Joshi, menjelaskan “Beban utang yang tidak tercatat ini menciptakan profil risiko yang jauh lebih tinggi daripada yang terlihat pada laporan keuangan konvensional saat ini.” (DH)