Rumor Jane Street beredar, bitcoin kembali ke level US$66.000
Kamis, 26 Februari 2026

JAKARTA - Harga Bitcoin (BTC) kembali menguat ke kisaran US$66.000 pada perdagangan Rabu (25/2/2026), di tengah spekulasi pasar mengenai dugaan tekanan jual dari pelaku institusional.
Dikutip dari Cointelegraph (25/02), bitcoin sempat menyentuh sekitar US$66.300 sebelum bergerak konsolidatif. Laporan tersebut menyebut harga BTC naik lebih dari 2% pada hari yang sama, meskipun pelaku pasar masih berhati-hati menjelang pembukaan perdagangan Wall Street.
Kenaikan ini terjadi setelah periode volatilitas tinggi yang dipicu sentimen makro dan dinamika likuiditas pasar.
Di kalangan trader, beredar rumor mengenai dugaan aktivitas penjualan algoritmik yang dikaitkan dengan firma perdagangan asal Amerika Serikat, Jane Street.
Isu yang dikenal sebagai pola “10am selling” menyebut adanya penjualan terkoordinasi setiap pukul 10 pagi waktu Timur AS (10am Eastern time), yang disebut-sebut menjadi salah satu faktor tekanan harga sejak Oktober 2025.
Isu tersebut muncul bersamaan dengan proses hukum yang diajukan oleh Terraform Labs yang menyinggung dugaan “manipulasi pasar” sepanjang 2022, tahun ketika bitcoin sempat menyentuh level sekitar US$15.600 pada kuartal IV. Jane Street membantah tudingan tersebut dan menyebutnya sebagai klaim yang “tidak berdasar dan oportunistis.”
Sejumlah analis menilai pergerakan harga lebih dipengaruhi likuiditas order book yang relatif tipis serta aksi ambil untung jangka pendek.
Keith Alan, salah satu pendiri Material Indicators, menyatakan reli dipicu likuiditas yang tipis di bursa kripto dan mencatat likuiditas jual di atas harga pasar ditarik menjelang pidato Presiden AS Donald Trump.
Sementara itu, analis kripto Jelle mengatakan BTC menghadapi resistensi kuat di sekitar US$66.000, baik dari batas bawah rentang lokal maupun tren empat jam (4H). Penembusan level tersebut dinilai menjadi kunci arah pergerakan jangka pendek.
Data dari CoinGlass menunjukkan dalam 24 jam terakhir terjadi likuidasi pasar kripto sebesar US$333 juta, dengan posisi short menyumbang sekitar US$213 juta. Kondisi ini menandakan banyak posisi bearish terpaksa ditutup akibat kenaikan harga.
Rebound di atas US$66.000 menunjukkan minat beli masih muncul di level psikologis tersebut, meski pelaku pasar tetap mencermati arus dana institusional dan sentimen global sebagai penentu arah berikutnya.(DH)