Outlook Moody’s turun, Indonesia bisa jual global bonds US$4,5 miliar

Kamis, 26 Februari 2026

image

JAKARTA – Indonesia berhasil melakukan penjualan obligasi global (global bonds) terbesar sejak setidaknya 2017, mengatasi ancaman penurunan peringkat kredit dan menandakan meredanya kekhawatiran investor terkait kondisi fiskal di ekonomi terbesar Asia Tenggara.

“Indonesia mengumpulkan €2,7 miliar (US$3,2 miliar) melalui utang denominasi euro, serta 9,25 miliar yuan offshore (US$1,3 miliar),” kata sumber yang akrab dengan transaksi ini namun meminta namanya dirahasiakan, seperti dikutip Bloomberg, Kamis (26/2).

“Denominasi euro berhasil menarik pesanan sebesar €9,2 miliar, tidak termasuk penawaran dari underwriter,” ujar salah satu sumber.

Dengan rasio permintaan (bid to cover ratio) kuat sebesar 3,4 kali, Indonesia menetapkan harga penawaran tiga bagian obligasi euro dengan premi risiko lebih rendah dibanding target awal. Obligasi yuan offshore juga menunjukkan pengetatan spread kredit yang serupa.

Penjualan obligasi dalam dua mata uang ini menunjukkan kemampuan Indonesia mengakses pasar global dengan biaya pinjaman yang relatif kompetitif dan permintaan yang sehat, meskipun kekhawatiran terhadap kesehatan fiskal sempat mengguncang aset domestik beberapa bulan terakhir.

Transaksi ini dilakukan setelah Indonesia mencatat defisit anggaran yang jarang terjadi pada Januari dan setelah Moody’s menurunkan prospek kredit Indonesia menjadi negatif awal bulan ini.

“Stabilitas dan kekuatan indikator kredit negara mendorong permintaan kuat terhadap obligasi offshore ini, meskipun ada peringatan dari lembaga pemeringkat (Moody's Rating) terkait kondisi keuangan Indonesia,” ujar Timothy Tan, Kepala Strategi Obligasi dan Kredit Asia di Bloomberg Intelligence.

“Spread obligasi dolar Indonesia tidak melebar signifikan dibandingkan negara tetangga seperti Filipina,” tambahnya.

Penjualan obligasi terbaru ini menandai pulihnya kepercayaan investor global sejak keputusan Moody’s, meskipun sebelumnya pasar saham Indonesia sempat mengalami penurunan terbesar hampir tiga dekade, setelah MSCI Inc. memperingatkan kemungkinan menurunkan status pasar ekuitas Indonesia menjadi frontier.

Moody’s sebelumnya menekankan bahwa penurunan peringkat aktual bisa terjadi jika defisit anggaran meningkat secara berkelanjutan, depresiasi mata uang berlangsung lama, aliran modal terganggu, atau terjadi pelemahan signifikan pada perusahaan milik negara, sesuatu yang terakhir terjadi pada 1998 saat krisis finansial Asia, ketika Indonesia mendapat bantuan dari Dana Moneter Internasional.

Indonesia mencatat defisit fiskal sebesar Rp54,6 triliun (US$3,25 miliar) pada Januari, setara 0,21% PDB. Setelah pandemi, pemerintah biasanya mencatat surplus pada bulan pertama tahun ini, ketika penerimaan pajak tinggi dan proyek-proyek baru mulai berjalan.

Namun, defisit fiskal diperkirakan melebar jauh melebihi batas hukum tahun ini karena pemerintah meningkatkan belanja untuk program makan gratis nasional dan pembangunan kembali provinsi terdampak banjir di Sumatra, menurut Citigroup Inc.

Obligasi yuan offshore juga menjadi sorotan, menandai kembalinya Indonesia ke pasar obligasi “dim sum” setelah debut pertamanya pada Oktober lalu. Minat global terhadap utang jenis ini tinggi karena biaya pendanaan berada dekat titik terendah sepanjang sejarah.

Penerbitan obligasi dim sum meningkat pesat dalam beberapa tahun terakhir, mencerminkan popularitas yuan dalam keuangan global, terutama ketika perang tarif dan kebijakan Amerika Serikat membuat aset dolar kurang menarik. Beijing mendorong penjualan obligasi offshore ini sebagai bagian dari ambisi jangka panjang menjadikan yuan sebagai mata uang dunia utama. (DK)

Terkait: BI tegaskan ekonomi RI solid, peringkat Moody’s Baa2 tetap aman?