Iran borong rudal panggul Verba dari Rusia senilai US$589 juta

Jumat, 27 Februari 2026

image

JAKARTA – Iran dilaporkan telah menandatangani kesepakatan senjata "rahasia" dengan Rusia senilai US$589 juta untuk mengakuisisi ribuan rudal panggul canggih.

Seperti dikutip abc.net.au (25/02/2026) dari laporan Financial Times, kesepakatan tersebut ditandatangani di Moskow pada bulan Desember lalu berdasarkan bocoran dokumen Rusia yang berhasil dilihat oleh media.

Melalui kontrak ini, Rusia akan mengirimkan 500 unit peluncur "Verba" dan 2.500 rudal "9M336" ke Iran yang dibagi ke dalam tiga tahap pengiriman mulai tahun 2027 hingga 2029.

Pembelian yang pertama kali diajukan Teheran pada Juli tahun lalu ini dilakukan di tengah eskalasi militer Amerika Serikat di Timur Tengah, di mana Presiden AS Donald Trump secara terbuka telah mengancam akan melancarkan serangan dalam 10 hingga 15 hari ke depan jika kesepakatan terkait program nuklir Teheran gagal dicapai.

Sistem Verba, yang dirancang dan diproduksi oleh perusahaan militer Rusia KBM, dikenal sebagai salah satu sistem pertahanan udara portabel (Man-Portable Air-Defence System/MANPADS) paling modern milik Moskow.

Senjata panggul ini dioperasikan oleh tim kecil yang sangat mobile, sehingga mampu menciptakan payung pertahanan udara yang tersebar dengan cepat tanpa harus bergantung pada infrastruktur radar tetap. Rudal ini dapat melesat dengan kecepatan 600 meter per detik untuk menghancurkan target di ketinggian 10 meter hingga 4,5 kilometer.

Keunggulan utamanya terletak pada tiga pelacak termal berspektrum inframerah dan ultraviolet yang mampu mendeteksi emisi panas dari knalpot mesin jet maupun pantulan sinar matahari di badan pesawat.

Analis pertahanan dari Felix Defence, John Conway, menilai senjata ini akan sangat optimal ditempatkan oleh Iran di sekitar infrastruktur kritis atau celah lembah geografis untuk mencegat pesawat terbang rendah, helikopter, rudal jelajah, dan drone.

Kebutuhan mendesak Iran akan sistem taktis ini dilatarbelakangi oleh rentannya sistem pertahanan udara mereka pada masa lalu. Pakar teknologi rudal dari Institut Internasional untuk Studi Strategis (IISS), Fabian Hinz, menyoroti bahwa serangan AS terhadap tiga situs nuklir utama Iran pada Juni 2025 telah mengekspos betapa tidak cukupnya kapabilitas pertahanan Teheran, yang selama ini lebih mengandalkan pencegahan lewat ancaman pembalasan yang signifikan.

Terlebih lagi, sistem rudal permukaan-ke-udara jarak jauh tercanggih Iran, S-300 yang bernilai lebih dari US$120 juta per unit dilaporkan telah mengalami kerusakan akibat serangan Israel pada Oktober 2024.

Conway menambahkan bahwa kehadiran Verba akan mengisi celah vital di lapisan bawah, memungkinkan Iran untuk menangkis ancaman berteknologi rendah dan menyisakan sistem yang lebih besar untuk memburu pesawat pengebom dan jet tempur utama.

Transaksi militer terbaru ini semakin mempertebal kemitraan strategis antara Moskow dan Teheran. Awal tahun ini, Iran dilaporkan telah menerima hingga enam unit helikopter serang Mi-28 Rusia, menggelar manuver angkatan laut bersama di Teluk Oman bulan ini, dan diproyeksikan akan menerima 16 jet tempur Su-35 pada akhir 2025.

Sebagai imbal balik, Moskow telah mendapatkan lisensi untuk memproduksi drone penyerang Shahed milik Iran yang terbukti digunakan dalam serangan massal ke Ukraina. Kendati Iran bersumpah akan membalas ancaman serangan AS secara "ganas", sejumlah pakar meragukan dampak strategis dari senjata baru ini.

Pakar dari Pusat Studi Strategis dan Pertahanan Universitas Nasional Australia (ANU), Stephan Fruehling, menegaskan bahwa sistem panggul Verba tidak akan mampu mencegah kampanye pengeboman tingkat tinggi.

Mengingat AS dan Israel telah terbiasa menghadapi sistem serupa selama bertahun-tahun, langkah akuisisi ini dinilai tidak akan menjadi rintangan besar atau memicu pergeseran dalam keseimbangan kekuatan regional. (SF)