JAKARTA - Sebanyak 14 saham resmi keluar dari mekanisme Full Call Auction (FCA) setelah Bursa Efek Indonesia (BEI) mencabut status efek dalam pemantauan khusus pada Kamis (26/2) kemarin.
Setelah pencabutan status pemantauan khusus itu, seluruh emiten ini akan kembali diperdagangkan dengan mekanisme reguler.
Mayoritas emiten ini sebelumnya masuk pemantauan khusus karena harga sahamnya berada di bawah Rp51 per lembar, serta likuiditas transaksi yang rendah dalam periode tiga bulan terakhir. Sebagian lainnya juga dinilai memiliki volume transaksi harian di bawah batas minimum yang ditetapkan bursa.
Perubahan ini akan berlaku efektif mulai Jumat (27/2) hari ini. Berikut daftar 14 emiten yang keluar dari papan pemantauan khusus:
- PT Bhuwanatala Indah Permai Tbk (BIPP) ke papan pengembangan. Saham BIPP sebelumnya masuk pemantauan khusus karena harga di bawah Rp51 dan likuiditas rendah selama tiga bulan terakhir.
- PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) ke papan pengembangan. Saham BNBR sebelumnya masuk pemantauan khusus karena harga di bawah Rp51 dan likuiditas rendah selama tiga bulan terakhir.
- PT Morenzo Abadi Perkasa Tbk (ENZO) ke papan pengembangan. Saham ENZO sebelumnya masuk pemantauan khusus karena harga di bawah Rp51 dan likuiditas rendah selama tiga bulan terakhir.
- PT Island Concepts Indonesia Tbk (ICON) ke papan pengembangan. Saham ICON sebelumnya masuk pemantauan khusus karena harga di bawah Rp51 dan likuiditas rendah selama tiga bulan terakhir.
- PT Indo Komoditi Korpora Tbk (INCF) ke papan pengembangan. Saham INCF sebelumnya masuk pemantauan khusus karena harga di bawah Rp51 dan likuiditas rendah selama tiga bulan terakhir.
- PT DMS Propertindo Tbk (KOTA) ke papan utama. Saham KOTA sebelumnya masuk pemantauan khusus karena harga di bawah Rp51 dan likuiditas rendah selama tiga bulan terakhir.
- PT Trimitra Propertindo Tbk (LAND) ke papan pengembangan. Saham LAND sebelumnya masuk pemantauan khusus karena harga di bawah Rp51 dan likuiditas rendah selama tiga bulan terakhir.
- PT Intermedia Capital Tbk (MDIA) ke papan pengembangan. Saham MDIA sebelumnya masuk pemantauan khusus karena harga di bawah Rp51 dan likuiditas rendah selama tiga bulan terakhir.
- PT Pool Advista Finance Tbk (POLA) ke papan pengembangan. Saham POLA sebelumnya masuk pemantauan khusus karena harga di bawah Rp51 dan likuiditas rendah selama tiga bulan terakhir.
- PT Pollux Hotels Group Tbk (POLI) ke papan pengembangan. Saham POLI sebelumnya masuk pemantauan khusus karena nilai dan volume transaksi harian di bawah batas minimum selama tiga bulan terakhir.
- PT Pikko Land Development Tbk (RODA) ke papan pengembangan. Saham RODA sebelumnya masuk pemantauan khusus karena harga di bawah Rp51 dan likuiditas rendah selama tiga bulan terakhir.
- PT Sreeya Sewu Indonesia Tbk (SIPD) ke papan pengembangan. Saham SIPD sebelumnya masuk pemantauan khusus karena nilai dan volume transaksi harian di bawah batas minimum selama tiga bulan terakhir.
- PT Widodo Makmur Unggas Tbk (WMUU) ke papan utama. Saham WMUU sebelumnya masuk pemantauan khusus karena harga di bawah Rp51 dan likuiditas rendah selama tiga bulan terakhir.
- PT Nusantara Infrastructure Tbk (META) ke papan pengembangan. Saham META sebelumnya masuk pemantauan khusus karena nilai dan volume transaksi harian di bawah batas minimum selama tiga bulan terakhir.
Dari seluruh saham tersebut, terdapat tiga emiten yang berada di bawah naungan grup konglomerasi ternama.
Ketiganya adalah BNBR dan MDIA yang berada di bawah naungan Grup Bakrie, serta META yang dikenal sebagai lengan bisnis Grup Salim di bidang infrastruktur jalan tol. (KR)