Bank of America: Emas capai US$6.000 per troi ons dalam 12 bulan
Jumat, 27 Februari 2026

JAKARTA - Bank of America menetapkan target harga emas sebesar US$6.000 per troi ons dalam 12 bulan ke depan, seiring meningkatnya ketidakpastian kebijakan moneter dan arah kepemimpinan Federal Reserve.
Dikutip thestreet, target ini mencerminkan potensi kenaikan lebih dari 15% dibanding harga saat ini sekitar US$5.177,76 per troi ons (per 25 Februari). Bank tersebut menilai emas akan didukung oleh ketidakpastian kebijakan, risiko inflasi, dan kekhawatiran stabilitas mata uang.
Perubahan ekspektasi pasar juga dipengaruhi penunjukan Kevin Warsh sebagai ketua Federal Reserve yang baru menggantikan Jerome Powell. Warsh dikenal hawkish, pernah mendukung suku bunga tinggi lebih lama, namun sikapnya mulai terdengar lebih dovish dalam beberapa hari terakhir, memicu spekulasi arah kebijakan moneter ke depan.
Risalah Federal Open Market Committee (FOMC) pada 18 Februari menunjukkan suku bunga tetap di kisaran 3,5%–3,75%, menambah ketidakpastian yang mendukung prospek kenaikan emas.
Meski demikian, harga emas sempat terkoreksi setelah pengumuman penunjukan Warsh, turun 1,55% dan sempat menyentuh US$4.893 per troi ons. Perak juga turun 0,33% pada periode yang sama.
Bank of America menilai perak memiliki volatilitas lebih tinggi dibanding emas, tetapi berpotensi rebound dan menembus US$100 per troi ons dalam jangka panjang.
Selain emas, pergerakan aset lindung nilai lain seperti bitcoin juga menjadi perhatian investor. Analis ETF senior Bloomberg, Eric Balchunas, mengatakan kekhawatiran investor terhadap bitcoin bersifat “sangat rabun”.
Menurutnya, bitcoin “memukul" semuanya dengan sangat keras pada 2023 dan 2024, setelah kenaikan signifikan sejak 2022, melampaui kinerja emas, perak, dan indeks saham teknologi.
Bank of America menilai emas cenderung memimpin penguatan pada periode defensif, sementara aset volatil seperti bitcoin biasanya mengikuti setelah kondisi likuiditas dan sentimen pasar membaik. (DH)