IMF desak AS segera pangkas defisit fiskal yang membengkak

Jumat, 27 Februari 2026

image

JAKARTA – Dana Moneter Internasional (IMF) secara resmi mendesak pemerintah Amerika Serikat untuk segera mengambil langkah konsolidasi guna memangkas defisit fiskalnya yang terus membengkak.

Seperti dilaporkan reuters.com (25/02/2026), seruan ini disampaikan sebagai jalan keluar terbaik untuk menekan defisit transaksi berjalan dan defisit perdagangan AS yang kini dinilai sudah terlampau besar.

Peringatan tersebut disampaikan langsung oleh Direktur Pelaksana IMF Kristalina Georgieva usai memimpin tinjauan tahunan terhadap kebijakan ekonomi AS. Georgieva menegaskan kesimpulannya secara lugas bahwa defisit transaksi berjalan AS saat ini sudah terlalu besar, sebuah realitas yang menurutnya juga telah disadari secara penuh oleh pemerintahan Presiden Donald Trump.

Sebagai respons atas ketidakseimbangan neraca pembayaran ini, pemerintah AS sebelumnya telah mengaktifkan Pasal 122 dari Undang-Undang Perdagangan 1974 untuk memberlakukan tarif pengganti.

Manuver kebijakan perdagangan ini terpaksa diambil setelah Mahkamah Agung AS membatalkan kebijakan tarif darurat berskala luas yang digagas Trump karena dinilai ilegal.

Namun, Direktur IMF untuk Belahan Bumi Barat Nigel Chalk menawarkan rute penyelesaian yang berbeda. Menurutnya, alih-alih hanya mengandalkan instrumen tarif, cara paling efektif untuk menurunkan defisit transaksi berjalan yang diproyeksikan IMF akan berada di kisaran 3,5% hingga 4,0% dari Produk Domestik Bruto (PDB) dalam waktu dekat adalah dengan memangkas defisit fiskal AS itu sendiri.

Dalam laporan tinjauan "Pasal IV" perdananya terhadap kebijakan era Trump ini, IMF mencatat bahwa pertumbuhan ekonomi AS untuk tahun 2026 akan tetap tangguh di level 2,4%, sejalan dengan perkiraan bulan Januari lalu.

Meski demikian, tingginya ketidakpastian seputar jalur pertumbuhan membuat tingkat inflasi AS diproyeksikan baru akan kembali ke target 2% yang dipatok oleh bank sentral Federal Reserve pada awal tahun 2027 mendatang.

Lebih jauh lagi, lembaga keuangan global tersebut memproyeksikan bahwa defisit fiskal AS akan tetap tertahan di angka 7% hingga 8% dari PDB dalam beberapa tahun ke depan. Angka ini memprihatinkan karena nilainya lebih dari dua kali lipat dari target yang dicanangkan oleh Menteri Keuangan AS Scott Bessent.

Jika tren ini berlanjut, rasio utang pemerintah umum yang dikonsolidasikan diperkirakan akan menembus level 140% dari PDB pada tahun 2031. Meskipun IMF mengakui bahwa risiko tekanan gagal bayar (sovereign stress) di AS saat ini masih tergolong rendah, mereka memberikan catatan peringatan yang tegas.

Tren kenaikan rasio utang publik terhadap PDB serta meningkatnya porsi utang jangka pendek dinilai merepresentasikan risiko stabilitas yang terus membesar, tidak hanya bagi perekonomian domestik Amerika Serikat, tetapi juga bagi pasar keuangan global secara keseluruhan. (SF)