Dominasi rare earth China mulai beri dampak ke industri chip Amerika
Jumat, 27 Februari 2026

JAKARTA - Industri dirgantara dan semikonduktor Amerika Serikat menghadapi tekanan baru akibat terbatasnya pasokan rare earth dari China, terutama yttrium dan scandium.
Kelangkaan ini terjadi meskipun hubungan perdagangan kedua negara menunjukkan tanda mereda.
Dikutip dari mining.com, data Bea Cukai China menunjukkan ekspor yttrium ke AS turun tajam sejak pembatasan diberlakukan pada April. Dalam delapan bulan setelah pembatasan, ekspor hanya mencapai 17 ton, dibandingkan 333 ton pada periode yang sama sebelumnya.
Kelangkaan ini mulai berdampak pada rantai pasok industri. Dua perusahaan Amerika Utara yang menggunakan yttrium untuk pelapis mesin terpaksa menghentikan sementara produksi.
Salah satu perusahaan juga mulai menolak pelanggan kecil untuk mengamankan pasokan bagi klien utama, termasuk produsen mesin pesawat.
Harga yttrium melonjak signifikan akibat keterbatasan pasokan. Sejak November, harga naik 60% dan kini mencapai sekitar 69 kali lipat dibandingkan tahun lalu. Beberapa produsen juga mulai membatasi penggunaan bahan tersebut.
Yttrium digunakan untuk pelapis yang melindungi mesin dan turbin dari suhu ekstrem. Tanpa pelapis tersebut, mesin tidak dapat beroperasi dengan aman.
Seorang pejabat pemerintah AS mengatakan beberapa produsen kini menghadapi “kekurangan” rare earth dari China. Pemerintah AS menyatakan akan memastikan akses terhadap mineral penting, termasuk melalui negosiasi dengan China dan pengembangan rantai pasok alternatif.
“Ini termasuk bernegosiasi dengan China dan memantau kepatuhan terhadap kesepakatan Presiden Trump dengan Presiden Xi, serta mengembangkan rantai pasok alternatif jika diperlukan.”
Selain yttrium, produsen chip AS juga menghadapi kekurangan scandium, bahan penting dalam produksi chip generasi baru dan perangkat 5G. Produsen semikonduktor dilaporkan mengalami keterlambatan dalam memperoleh lisensi ekspor dari China dan mulai meminta dukungan pemerintah AS.
“Ini adalah hal yang harus diawasi dan contoh nyata bagaimana China menggunakan kekuatan rare earth-nya,” kata Kevin Michaels, Managing Director AeroDynamic Advisory.
Saat ini, AS tidak memiliki produksi scandium domestik maupun sumber alternatif yang siap beroperasi. Cadangan yang tersedia diperkirakan hanya cukup untuk beberapa bulan.
Kondisi ini meningkatkan kekhawatiran terhadap stabilitas produksi industri strategis AS, termasuk pertahanan, dirgantara, dan teknologi semikonduktor.(DH)