Tom Lee: Bitcoin anjlok karena ada 'bug' dan pihak kuat tekan harga
Senin, 24 November 2025
JAKARTA - Tom Lee, Ketua Bitmine sekaligus pakar strategi terkenal, mengatakan penurunan harga Bitcoin yang cepat sebagian besar disebabkan oleh “kesalahan mekanis,” sambil mengakui kemungkinan adanya tekanan pasar yang sengaja dilakukan untuk menurunkan harga.Komentar ini muncul ketika bitcoin jatuh mendekati $83.000 pada Jumat, level terendah sejak April, menandai pasar bearish yang semakin kuat.Dalam wawancara di CNBC’s Power Lunch, Lee menjelaskan bahwa penurunan harga terkait dengan kegagalan teknis pada feed harga stablecoin di sebuah bursa saat crash pada 10 Oktober, yang memicu likuidasi otomatis.Ia menjelaskan, harga stablecoin di satu bursa tiba-tiba turun hingga US$0,65 karena masalah likuiditas internal, padahal harga di bursa lain normal.Dilansir finance.yahoo.com, kesalahan ini terkait mekanisme ADL (Auto-Deleveraging Liquidation), yang mirip dengan margin call.“Ini sebenarnya bug, kesalahan kode, seharusnya mereka mengambil harga dari beberapa bursa, bukan hanya mengandalkan kuotasi internal,” katanya.Lee menolak menyebut nama perusahaan yang terdampak, tetapi banyak indikasi menunjuk pada Binance.Pada 10-11 Oktober, tangkapan layar USDe, “dolar sintetis” ciptaan Ethena Labs, menunjukkan harga $0,65 di Binance, memicu kepanikan dan likuidasi paksa.Setelah itu, Binance mulai mengembalikan dana pengguna yang terdampak.Selain faktor teknis, Lee juga setuju dengan klaim bahwa ada pihak kuat sengaja menurunkan harga bitcoin untuk mempercepat penurunan.Mike Alfred, bullish bitcoin, menyebut ada “kekuatan misterius” yang berupaya memanipulasi bitcoin melalui derivatif. Lee menanggapi singkat: “Setuju.”
Komentar mereka menuai kritik di media sosial, dengan beberapa trader menuding ini sebagai “teori konspirasi” dan penyangkalan realitas pasar.Analis Valdrin Tahiri menilai penurunan bitcoin kini menandai awal siklus bearish yang berkelanjutan.Pada hari Jumat lalu, harga Bitcoin menyentuh US$83.324, turun lebih dari 35% dari rekor tertinggi sepanjang masa.“Kombinasi keparahan crash dan tidak adanya tanda pembalikan tren bullish memicu ketakutan bahwa pasar bull telah berakhir,” kata Tahiri. (DK)