Laba Astra International merosot 3%, dividen ciut jadi Rp292?

Jumat, 27 Februari 2026

image

JAKARTA – Laba bersih PT Astra International Tbk (ASII) merosot 3% secara tahunan menjadi Rp32,8 triliun per Desember 2025.

Sejalan dengan ini, pendapatan konsolidasi Grup Astra juga menyusut 2% menjadi Rp323,4 triliun, tertekan kinerja lini batu bara dan jasa tambang, serta penjualan mobil baru yang melemah.

Di sisi lain, Djony Bunarto Tjondro, Presiden Direktur ASII, menyebutkan bahwa kinerja Perseroan masih ditopang oleh kontribusi segmen bisnis lainnya.

“Terutama tambang emas, jasa keuangan, dan penjualan motor,” tambahnya dalam siaran resmi Perseroan, Jumat (27/2).

Kinerja laba segmen otomotif dan mobilitas memang tampak stagnan, turun 0,3% ke Rp11,4 triliun. Penjualan mobil nasional turun 7% sepanjang 2025, sedangkan penjualan motor naik 1%.

Namun, lini penjualan mobil bekas Astra melalui OLXmobbi – yang sudah dimiliki 60% sejak Mei 2025 – justru mencatatkan pertumbuhan penjualan hingga 21% menjadi 33,1 ribu unit.

Segmen alat berat, tambang, konstruksi, dan energi – yang dipimpin PT United Tractors Tbk (UNTR) dan anak usahanya, PT Pamapersada Nusantara (PAMA) – juga mencatatkan laba ambles hingga 24%, sehingga kontribusi hanya Rp9,1 triliun.

Perseroan mengatribusikan lesunya kinerja pada faktor harga batu bara yang lemah hingga curah hujan tinggi sepanjang 2025.

Namun, pertambangan emas menjadi penopang kinerja lini bisnis ini di tengah reli harga sepanjang tahun. Harga rata-rata penjualan (ASP) naik 40%, meski volume penjualan turun 2%.

Dari tujuh lini bisnis ASII, lima membukukan pertumbuhan laba bersih, termasuk jasa keuangan, agribisnis, infrastruktur, dan teknologi informasi.

Namun, lini bisnis properti menunjukkan pertumbuhan paling pesat, dengan laba melonjak hingga 224%.

“Utamanya didorong kontribusi aset pergudangan industrial yang baru diakuisisi, serta pengakuan goodwill negatif dari aksi akuisisi PT Mega Manunggal Property Tbk (MMLP),” jelas Djony lebih lanjut.

Dengan laba bersih merosot 3% di tahun 2025, ASII pun merencanakan pembagian dividen final sebesar Rp292 per lembar saham, turun 5,2% dari Rp308 per lembar pada tahun buku 2024 lalu.

Jika turut menghitung dividen interim sebesar Rp98 per lembar pada Oktober 2025 lalu, maka total dividen untuk tahun buku 2025 menjadi Rp390 atau turun 3,9% dari Rp406. Dengan demikian rasio pembayaran dividen yang diusulkan mencapai 48%.

Untu tahun 2026, Astra berkomitmen terhadap alokasi modal yang disiplin, serta neraca yang kuat untuk menciptakan nilai berkelanjutan bagi pemangku kepentingan.

“Ke depan, meskipun lingkungan operasional beberapa bisnis kami kemungkinan masih akan tetap menantang, kami memperkirakan sentimen konsumen secara keseluruhan akan membaik,” tutup Djony. (ZH)