Survei: Mayoritas warga AS nilai Trump makin labil di usia tua

Jumat, 27 Februari 2026

image

JAKARTA – Enam dari sepuluh warga Amerika Serikat, termasuk sebagian signifikan dari basis pendukung Partai Republik, kini menilai Presiden Donald Trump semakin labil seiring bertambahnya usianya.

Seperti dikutip reuters.com (25/02) dari hasil jajak pendapat terbaru Reuters/Ipsos, sebanyak 61% responden secara keseluruhan sepakat mendeskripsikan Trump "menjadi labil seiring bertambahnya usia".

Angka ini didominasi oleh 89% dari kubu Demokrat, 64% pemilih independen, dan 30% dari kubu Republik. Survei daring yang melibatkan 4.638 orang dewasa AS dengan margin of error 2% ini dirampungkan pada hari Senin, tepat sehari sebelum presiden berusia 79 tahun tersebut menyampaikan pidato kenegaraan State of the Union di hadapan Kongres, dan menyusul serangkaian teguran kerasnya terhadap anggota parlemen maupun hakim dalam sebulan terakhir.

Merespons hasil jajak pendapat tersebut, Juru Bicara Gedung Putih Davis Ingle menepisnya dan menyebut data itu sebagai contoh dari narasi yang palsu dan putus asa. Ingle justru menegaskan bahwa ketajaman, energi yang tak tertandingi, serta aksesibilitas historis Trump merupakan pembeda utama antara dirinya dengan pendahulunya dari kubu Demokrat, Joe Biden.

Terlepas dari sentimen negatif mengenai usianya, tingkat popularitas keseluruhan Trump tercatat tidak banyak berubah dalam beberapa bulan terakhir. Sebanyak 40% responden dalam survei terbaru ini menyetujui kinerjanya sebagai presiden, naik tipis dua poin persentase dari awal bulan ini.

Meski demikian, angka persetujuan tersebut telah tertahan jauh di bawah tingkat popularitas 47% yang sempat diraihnya pada awal masa jabatannya.

Isu mengenai usia lanjut para pemimpin politik saat ini memang tengah menjadi sorotan luas di AS. Sebanyak 79% responden sepakat dengan pernyataan bahwa pejabat terpilih di Washington D.C. terlalu tua untuk mewakili mayoritas warga Amerika, mengingat rata-rata usia di Senat mencapai 64 tahun dan DPR 58 tahun.

Sorotan ini tidak hanya tertuju pada Trump, bahkan 58% responden Demokrat menilai politisi top Senat dari partai mereka sendiri, Chuck Schumer (75 tahun), sudah terlalu tua untuk berada di pemerintahan.

Trump sendiri mencetak sejarah sebagai presiden tertua pada hari pelantikan saat ia kembali menjabat pada Januari 2025 di usia 78 tahun, dan berada di jalur untuk melampaui rekor Biden dengan menginjak usia 80 tahun pada bulan Juni mendatang. Sejak dilantik, ia memacu kebijakannya dengan kecepatan tinggi, namun kerap diwarnai nada marah di ruang publik.

Hal ini terlihat pekan lalu saat ia mengaku "sangat malu" pada Mahkamah Agung AS yang membatalkan tarifnya, hingga insiden di bulan November saat ia melabeli anggota parlemen Demokrat yang menentangnya sebagai pengkhianat yang bisa menghadapi eksekusi.

Ironisnya, faktor usia ini berbalik membayangi Trump yang memenangkan Pilpres 2024 justru karena Biden (yang mengakhiri masa jabatannya di usia 82 tahun) dinilai luas telah kehilangan ketajaman mentalnya.

Kini, survei pada bulan Februari menunjukkan hanya 45% responden yang masih menganggap Trump tajam secara mental dan mampu menghadapi tantangan, anjlok tajam dari angka 54% pada survei Reuters/Ipsos bulan September 2023.

Penurunan persepsi kognitif ini terlihat paling parah di kalangan pemilih independen yang merosot dari 53% menjadi 36%, serta kubu Demokrat yang menyusut dari 29% menjadi 19%.

Sementara itu, kubu Republik masih tetap solid memberikan pembelaan, dengan 81% di antaranya bersikeras memandang sang presiden masih memiliki ketajaman mental yang utuh, angka yang hampir tidak berubah dibandingkan survei tahun 2023. (SF)