Bitcoin anjlok ke kisaran US$65.000, momentum kenaikan memudar?

Sabtu, 28 Februari 2026

image

JAKARTA – Aset kripto terbesar di dunia, bitcoin, setelah sempat menembus level di atas $69.000 pada hari Rabu dan memberi sinyal potensi pemulihan bagi mata uang kripto terkemuka, justru turun lebih dari 3% pada hari Jumat (27/2) ke kisaran $65.000, seiring pelemahan pasar saham dan kenaikan harga emas sebesar 1,4%.

 Seperti dikutip YahooFinance, Sabtu (28/2), di sisi lain  Indeks S&P 500 telah turun 0,7% dan Nasdaq melemah 1,15% sejak bel pembukaan bursa New York pada hari Jumat.

 Pada saat artikel ini ditulis, bitcoin diperdagangkan di level $65.222 dan telah kehilangan 3,5% dibandingkan waktu yang sama minggu lalu, menurut agregator harga kripto CoinGecko.

 Berdasarkan kapitalisasi pasar ini bitcoin telah diperdagangkan di kisaran hampir setengah dari harga tertinggi sepanjang masa sebesar $126.080 selama sebagian besar pekan terakhir ini.

Bitcoin mengalami pekan yang bergejolak, dimulai dengan aksi jual pada hari Senin. Volatilitas berlanjut di pertengahan minggu ketika tarif global 10% Presiden Donald Trump mulai diberlakukan. Namun, sempat muncul jeda kelegaan singkat ketika laporan kinerja Nvidia menstabilkan saham teknologi dan pasar kripto.

“Setelah mencapai level psikologis $70.000, momentum kenaikan mulai memudar,” tulis analis dari bursa kripto berbasis di Tokyo, Bitbank, dalam catatan yang dibagikan kepada Decrypt.

“Sejak hari Kamis, tanpa adanya katalis baru, BTC bergerak dalam rentang sempit di area $60.000 menengah hingga atas.”

 Mata uang kripto utama lainnya juga melemah sejalan dengan Bitcoin. Ethereum turun lebih dari 5% pada hari itu ke level $1.918, sementara XRP turun sekitar 4% ke $1,35, dan Solana merosot lebih dari 5% ke $81,50.

 Seperti dikutip Bloomberg (24/02), tekanan makroekonomi ini memperparah kerapuhan yang tengah melanda pasar kripto. Analis pasar utama FxPro, Alex Kuptsikevich, menjelaskan bahwa kejatuhan harga ini pada awalnya dipicu oleh rendahnya likuiditas yang memicu efek berantai stop order ketika harga menembus garis support lokal.

Selain itu, ketegangan geopolitik yang sedang berlangsung juga disebut terus membayangi pergerakan harga kripto dan emas.

Hal senada diungkapkan oleh Co-founder Orbit Markets, Caroline Mauron, yang menilai pasar saat ini sangat rentan karena terbebani ketidakpastian makro, mulai dari tensi geopolitik di Iran hingga perubahan mendadak kebijakan tarif AS.

Dampak kepanikan ini sangat terasa pada arus modal institusional. Belasan dana yang diperdagangkan di bursa (ETF) Bitcoin spot di AS mencatatkan arus keluar bersih (net outflow) selama lima minggu berturut-turut dengan total penarikan mencapai US$3,8 miliar, menjadikannya rentetan terpanjang sejak Februari tahun lalu.

Selain sentimen tarif dan geopolitik, CEO Koinly, Robin Singh, menyoroti bahwa harga bitcoin saat ini sedang sangat membutuhkan narasi baru. Ia mencontohkan bahwa optimisme terkait regulasi US Clarity Act terbukti gagal mengerek harga secara signifikan.

Ke depan, para pelaku pasar kini mengawasi ketat level pertahanan. Analis BTC Markets, Rachael Lucas, menyebut US$65.000 sebagai level support utama, di mana penembusan di bawah angka tersebut akan berisiko menarik harga turun ke US$60.000.

Data dari bursa derivatif Deribit juga mengonfirmasi bahwa posisi perlindungan risiko penurunan (downside protection) saat ini terkonsentrasi di level US$60.000, sementara kubu "bullish" memprediksi bitcoin harus mampu merebut kembali level US$70.000 untuk mengubah arah tren pasar. (SF)