CEO Unicus Research Laks Ganaphati: Perbankan AS di ambang krisis
Senin, 24 November 2025

JAKARTA – Di tengah euforia Wall Street yang didorong laporan pendapatan kuat dari sektor teknologi dan kecerdasan buatan (AI), sebuah peringatan keras muncul mengenai rapuhnya fundamental ekonomi Amerika Serikat.
Laks Ganapathi, CEO Unicus Research, sebuah firma riset independen yang berfokus pada analisis pasar dan peluang short-selling, memperingatkan bahwa sektor perbankan regional AS berada di ambang keruntuhan. Menurutnya, potensi dampaknya bisa lebih buruk daripada Krisis Finansial Global 2008.
Dalam wawancaranya dengan kitco.com (20/11), Ganapathi menyoroti keretakan serius di pasar kredit swasta (private credit) serta sistem perbankan bayangan (shadow banking) sebagai pemicu utama potensi krisis tersebut. Ia menggambarkan risiko pasar saat ini sebagai “krisis 2008 yang memakai steroid.”
Ganapathi menilai masalah likuiditas dalam sistem perbankan bayangan dapat menciptakan efek domino yang meruntuhkan bank-bank regional, lalu menyeret lembaga-lembaga besar. Situasi ini diperparah oleh keterlibatan raksasa perbankan seperti JPMorgan dan Morgan Stanley, yang ikut mendanai sektor kredit swasta, sektor yang kini menyalurkan miliaran dolar ke program berisiko seperti buy-now, pay-later.
Analisisnya didasarkan pada data beban utang konsumen yang dinilai kian tidak berkelanjutan. Ia mencatat bahwa tunggakan pinjaman kendaraan di AS kini berada di level tertinggi sepanjang sejarah.
Rata-rata satu dari lima orang Amerika harus membayar US$1.000 per bulan hanya untuk cicilan kendaraan, sebuah kondisi yang disebutnya sebagai “mimpi buruk mutlak.”
Ganapathi juga pesimistis terhadap respons bank sentral AS (The Fed). Pemangkasan suku bunga hingga 2026, menurutnya, hanya ibarat menempelkan plester pada luka tembak, dan bahkan berpotensi memicu inflasi lebih tinggi jika disertai pelonggaran kuantitatif untuk menopang pasar saham.
Kritiknya tak berhenti pada sektor keuangan. Ganapathi menyoroti sektor AI yang kini menguasai pasar, dan menyebutnya sebagai “istana kartu” (house of cards) yang justru akan meningkatkan biaya energi dan air, menambah tekanan inflasi bagi konsumen.
Dengan biaya perawatan kendaraan melonjak lebih dari 50% dan premi asuransi naik 56%, Ganapathi memprediksi kemarahan publik dan potensi kerusuhan sosial (social unrest) pada 2026, ketika masyarakat dipaksa memilih antara gagal bayar atau memenuhi kebutuhan dasar.
Sebagai strategi defensif, Ganapathi menyarankan investor meningkatkan porsi aset riil, terutama emas, yang dinilainya memiliki nilai moneter kuat dan tahan guncangan. (SF)