Hedge fund besar mulai tarik dana dari ETF bitcoin, upaya de-risking?

Sabtu, 28 Februari 2026

image

JAKARTA – Hedge fund yang sebelumnya memicu lonjakan dana yang diperdagangkan di bursa (exchange-traded fund/ETF) bitcoin di Amerika Serikat kini bergerak cepat menarik investasinya.

Alokasi gabungan pada ETF bitcoin, yang sebagian besar dimiliki hedge fund besar, turun 28% dari kuartal ketiga ke kuartal keempat 2025, menurut data CF Benchmarks, anak usaha milik penuh bursa kripto Kraken.

Seperti dikutip Business Times, harga bitcoin telah merosot hampir separuh dari puncaknya pada Oktober yang mencapai lebih dari US$126.000.

Pada perdagangan Asia, Senin (23/2), bitcoin sempat turun hingga 4,8% ke sekitar US$64.300, level terendah sejak 6 Februari, seiring kekhawatiran baru terkait tarif Amerika Serikat yang mengguncang pasar global.

Penurunan ini memperpanjang aksi jual yang berlangsung sejak Oktober. Dengan harga aset digital yang melemah dan imbal hasil strategi perdagangan sebelumnya menyusut, investor berkarakter cepat atau fast money secara bertahap memangkas eksposur mereka.

Kepala Riset CF Benchmarks, Gabe Selby, menulis dalam catatan riset tertanggal 19 Februari bahwa tema dominan selama dua kuartal terakhir adalah proses de-risking oleh hedge fund. “Puncak harga pada Oktober tampaknya memicu pengurangan posisi secara sistematis,” tulisnya.

[[ De-risking adalah  mengurangi tingkat risiko dalam portofolio investasi. Dalam konteks pasar keuangan, de-risking adalah tindakan investor, terutama institusi seperti hedge fund, untuk mengurangi atau menutup posisi berisiko tinggi, memindahkan dana ke aset yang lebih aman atau stabil,biasanya dilakukan saat ketidakpastian meningkat atau potensi imbal hasil menurun.]]

Pergerakan tersebut tercermin dalam dokumen regulator. Brevan Howard, platform investasi alternatif global, memangkas kepemilikannya di BlackRock iShares Bitcoin Trust secara signifikan dan tercatat sebagai penjual terbesar ETF spot pada kuartal keempat.

Jumlah saham yang mereka pegang turun sekitar 86% menjadi 5,5 juta saham, sehingga nilai posisi spot menyusut dari sekitar US$2,4 miliar menjadi US$275 juta.

Sebagian penarikan dana ini berkaitan dengan perubahan momentum harga. Bitcoin turun seiring—dan dalam beberapa periode bahkan lebih cepat—dibandingkan risiko makro yang seharusnya dapat diantisipasi, sehingga melemahkan argumen institusional bahwa aset ini dapat berfungsi sebagai pelindung nilai terhadap inflasi, depresiasi mata uang, atau tekanan pasar saham.

Namun, penarikan juga bersifat mekanis. Strategi basis trading bitcoin, yakni membeli ETF spot sambil menjual kontrak berjangka di Chicago Mercantile Exchange, menjadi favorit hedge fund dalam dua tahun terakhir karena memungkinkan mereka menangkap premi di atas harga spot tanpa perlu memprediksi arah harga.

Pada tahap awal, strategi tersebut menghasilkan imbal hasil tahunan dua digit. Namun hingga 9 Februari, imbal hasilnya menyusut menjadi sekitar 4% akibat semakin padatnya persaingan di meja arbitrase, menurut data Amberdata.

Meski demikian, tidak semua investor mengurangi eksposur. Beberapa investor institusional yang lebih stabil, termasuk dari Uni Emirat Arab, justru menambah kepemilikan di IBIT sebesar 46% pada kuartal keempat 2025.

Secara keseluruhan, data CF Benchmarks menunjukkan bahwa investor institusional jangka panjang terus menambah posisi setiap kuartal, sehingga kepemilikan meningkat 145% secara tahunan.

“Modal spekulatif yang sebelumnya mendorong reli harga telah mundur dan digantikan oleh basis kepemilikan yang lebih tahan lama, meskipun harga sedang terkoreksi,” ujar Selby. (DK)