Kisah pasangan AS pilih Italia dengan biaya hidup US$1.246 per bulan
Minggu, 01 Maret 2026

WASHINGTON — Pada 2020, jauh dari Amerika Serikat, Cassandra Tresl dan suaminya, Alex Ninman, menjalani hari-hari yang tak pernah mereka bayangkan sebelumnya. Tinggal bersama kakek Cassandra di Republik Ceko, pasangan itu justru mengetahui kabar besar dalam hidup mereka: Cassandra hamil anak pertama.
Seperti dikutip dari CNBC, Jumat (27/2), kelahiran bayi perempuan mereka mengubah banyak hal. Rencana kembali ke Amerika Serikat sempat dipertimbangkan, namun realitas biaya membeli rumah dan penitipan anak membuat pasangan ini berpikir ulang. Di tengah pencarian itu, Italia muncul sebagai alternatif tak terduga—berawal dari cerita tentang program penjualan rumah seharga satu euro yang dibaca Tresl.
Sebelum pindah ke Ceko, mereka hidup di jantung hiruk-pikuk New York City. Tresl bekerja di perusahaan teknologi, sementara Ninman menjadi tukang daging di jaringan ritel Whole Foods. Tinggal di kota besar selalu menjadi impian mereka, namun ritme hidup yang serba cepat perlahan menggeser prioritas.
“Kalau tetap di New York, saya harus terus mengembangkan karier. Tapi itu bukan hal yang saya pikirkan di waktu luang,” kata Tresl.
Lingkungan New York membuatnya bertanya ulang tentang apa yang benar-benar penting. Ia kemudian meminta izin bekerja jarak jauh, keputusan yang membuka kemungkinan hidup di luar Amerika Serikat.
Keinginan meninggalkan AS bukan fenomena tunggal. Jajak pendapat Gallup 2025 menunjukkan sekitar satu dari lima warga Amerika ingin menetap permanen di luar negeri. Italia menjadi salah satu tujuan menarik, dengan biaya hidup sekitar 9,5% lebih rendah dibandingkan AS, menurut Numbeo.
Sejak akhir 2010-an, sejumlah kota kecil di Italia menawarkan properti rusak seharga satu euro untuk menarik penduduk baru sekaligus mendorong revitalisasi wilayah. Program inilah yang mendorong Tresl mulai serius mencari rumah di Italia.
Namun harga satu euro bukan berarti tanpa biaya. Tresl menghitung secara rinci pengeluaran riil karena mereka tidak ingin total biaya melebihi 20.000 euro. Sebagian besar properti membutuhkan renovasi besar akibat lama terbengkalai atau rusak parah.
Pada Oktober 2021, mereka terbang ke Italia dan melakukan tur rumah di Abruzzo dan Tuscany, meninjau sekitar 15 properti. Pilihan akhirnya jatuh pada rumah dua lantai dengan dua kamar tidur, luas hampir 1.076 kaki persegi—bukan hanya karena harganya, tetapi juga karena pemandangan dari terasnya.
Rumah itu dibeli secara tunai pada Februari 2022 seharga 11.500 euro (sekitar US$13.150). Mereka mulai menempatinya pada Juli 2022 dan menyelesaikan sebagian besar renovasi pada musim gugur, dengan total biaya sekitar US$18.000.
Tanpa hipotek, kepemilikan tunai memberi rasa aman finansial, faktor yang menjadi penentu utama keputusan pindah. Kebebasan ini juga memungkinkan Tresl meninggalkan karier yang tak lagi sepenuhnya ia minati. Ia kini fokus pada blog perjalanan, newsletter, serta pekerjaan manajemen operasional untuk blogger lain.
Hidup di kota kecil membawa perubahan lain: pengeluaran sehari-hari lebih rendah, dengan gaya hidup yang menyesuaikan kebiasaan ekonomi lokal.
Pada 2024, pasangan ini membeli properti kedua di Italia dan menyewakannya melalui Airbnb dengan tarif hingga 85 euro (sekitar US$101) per malam. Ninman pun meninggalkan pekerjaannya sebagai tukang daging dan kini mengelola properti sewaan tersebut.
Properti kedua itu berupa rumah satu lantai dengan dua kamar tidur dan satu kamar mandi, berdiri di atas lahan sendiri dengan taman pribadi. Rumah tersebut dibeli seharga 17.000 euro (sekitar US$20.083), dengan biaya renovasi tambahan sekitar 10.000 euro.
Biaya hidup bulanan mereka di Italia sekitar US$1.246, termasuk utilitas dan kebutuhan sehari-hari. Pada musim dingin, biaya pemanas bisa mencapai 200 euro (US$237) per bulan. Setiap tahun, mereka membayar 286 euro (US$338) untuk pengelolaan sampah dan 61 euro (US$72) pajak properti per rumah.
Properti sewaan mereka menghasilkan sekitar 8.000 hingga 10.000 euro (US$9.486–US$12.000) per tahun. Menurut Tresl, pendapatan terbesar datang dari penyewa jangka panjang, pasangan atau keluarga kecil yang bekerja jarak jauh selama tiga hingga enam minggu.
Karena mereka membersihkan dan merawat properti sendiri, biaya operasional bulanan Airbnb hanya mencakup utilitas seperti listrik, Wi-Fi, dan pemanas di musim dingin. Pajak properti dan biaya sampah dibayarkan setahun sekali. (DK)