Michael Burry: Komitmen pasokan material Nvidia berisiko besar

Minggu, 01 Maret 2026

image

JAKARTA – Michael Burry, investor yang dikenal luas lewat kisahnya dalam The Big Short, kembali mengeluarkan peringatan keras terhadap Nvidia.

Seperti dikutip Barchart, Burry menilai kondisi terbaru perusahaan chip AI tersebut bukan sekadar ekspansi bisnis biasa, melainkan mengandung risiko besar yang sedang terbentuk dari dalam perusahaan itu sendiri.

Dalam tulisan terbarunya di Substack, Burry menyoroti lonjakan tajam komitmen pasokan Nvidia. Ia melihat pola ini menyerupai langkah yang pernah dilakukan Cisco Systems menjelang pecahnya gelembung dot-com pada awal 2000-an.

Berdasarkan laporan keuangan terbaru, kewajiban pembelian Nvidia melonjak drastis menjadi US$95,2 miliar, dari US$16,1 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Jika ditambah kewajiban pasokan lain seperti persediaan dan kontrak tambahan, total komitmen tersebut mendekati US$117 miliar—angka yang hampir setara dengan arus kas operasional tahunan perusahaan.

Manajemen Nvidia menyatakan langkah ini merupakan strategi untuk mengamankan kapasitas produksi dan persediaan lebih jauh ke depan dari praktik normal, seiring tingginya permintaan chip AI.

Persediaan perusahaan juga tercatat naik 8% dibanding kuartal sebelumnya, sebagai bagian dari antisipasi terhadap permintaan yang dinilai masih kuat.

Namun menurut Burry, komitmen besar tersebut dibuat sebelum ada kepastian penuh mengenai permintaan jangka panjang. Akibatnya, semakin banyak modal yang terkunci dalam persediaan dan kontrak pasokan jangka panjang, sehingga meningkatkan risiko jika permintaan melemah.

Ia menegaskan bahwa situasi ini bukan disebabkan oleh guncangan eksternal seperti pembatasan ekspor, melainkan murni hasil keputusan strategis internal.

Nvidia dinilai secara sadar mengunci kapasitas rantai pasok dalam skala yang belum pernah dilakukan sebelumnya.

Perbandingan dengan Cisco muncul karena perusahaan tersebut dahulu juga agresif mengamankan pasokan dengan asumsi pertumbuhan tinggi akan terus berlanjut. Ketika belanja teknologi anjlok setelah gelembung dot-com pecah, Cisco harus menanggung persediaan berlebih dan mencatat kerugian besar.

Meski Nvidia saat ini menikmati margin kotor di atas 70%—jauh lebih tinggi dibanding Cisco pada masanya—Burry mempertanyakan seberapa lama margin tersebut dapat bertahan.

Jika keseimbangan antara pasokan dan permintaan berubah, tekanan terhadap harga dan margin bisa terjadi dengan cepat.

Perdebatan pun mencuat di pasar: apakah dominasi Nvidia dalam infrastruktur AI menandai awal ekspansi jangka panjang, atau justru fase akhir dari siklus boom yang berisiko kelebihan kapasitas. Bagi Burry, ini bukan sekadar bisnis seperti biasa, melainkan risiko yang nyata. (DK)