Serangan AS–Israel ke Iran menaikkan risiko pasokan energi dunia
Minggu, 01 Maret 2026

JAKARTA - Pasar energi global menghadapi salah satu guncangan terberat dalam beberapa dekade setelah serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran, disusul serangan rudal balasan Teheran di kawasan Teluk. Eskalasi ini mengganggu stabilitas ekspor minyak dari wilayah penghasil minyak terpenting di dunia.
Besarnya gangguan akan sangat ditentukan oleh durasi konflik. Namun untuk saat ini, tingkat ancaman dan ketidakpastian sudah cukup menekan arus pasokan dari kawasan yang menyumbang sekitar 20% pasokan minyak global.
Dikutip Ruters.com, February 28, 2026 Tanpa resolusi cepat, harga minyak diperkirakan melonjak tajam ketika perdagangan dibuka pada Senin. Dalam beberapa pekan terakhir, minyak mentah Brent telah naik ke kisaran US$70 per barel—level tertinggi sejak Agustus 2025—seiring meningkatnya kekhawatiran investor terhadap potensi konflik militer di Timur Tengah.
>> Serangan Militer dan Respons Iran
Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan militer terhadap Iran pada Sabtu, menargetkan pimpinan senior negara tersebut dan memperluas konflik di Timur Tengah. Presiden AS Donald Trump menyatakan operasi tersebut bertujuan menghilangkan ancaman keamanan bagi Amerika Serikat sekaligus membuka peluang bagi rakyat Iran untuk mengganti kepemimpinan mereka.
Hingga saat ini, belum ada konfirmasi kerusakan pada infrastruktur minyak dan gas akibat serangan balasan Iran.
Namun, ledakan dilaporkan terjadi di Uni Emirat Arab dan Kuwait—dua eksportir minyak utama. Qatar, eksportir LNG terbesar kedua dunia, menyatakan telah mencegat rudal yang diarahkan ke wilayahnya.
Ledakan juga terdengar di Bahrain serta di dekat Pulau Kharg, terminal yang biasanya menyalurkan sekitar 90% ekspor minyak mentah Iran. Meski demikian, data pelayaran menunjukkan Teheran telah memindahkan sebagian besar minyak yang tersimpan di sana ke kapal tanker dalam beberapa hari terakhir.
>> Selat Hormuz Jadi Titik Kritis
Sejauh ini belum ada laporan gangguan pengiriman melalui Selat Hormuz—jalur sempit antara Iran dan Oman yang menangani hampir 20 juta barel minyak mentah dan produk olahan per hari.
Meski demikian, risiko kapal tanker terdampar di Teluk atau menjadi sasaran serangan sudah cukup membuat produsen, pedagang, dan perusahaan pelayaran meninjau ulang pergerakan minyak dan LNG mereka. Reuters melaporkan sejumlah perusahaan energi besar dan perusahaan perdagangan telah menangguhkan pengiriman melalui selat tersebut selama beberapa hari.
Kehati-hatian ini diperkirakan akan berlanjut hingga ada kepastian lebih kuat mengenai keamanan jalur laut di kawasan.
Tarif pengangkutan tanker, yang telah naik seiring meningkatnya ketegangan, diproyeksikan terus meningkat. Tarif acuan untuk kapal tanker minyak mentah berukuran sangat besar (VLCC) dari Timur Tengah ke China telah melonjak lebih dari tiga kali lipat sejak awal tahun, mencerminkan meningkatnya risiko serta berkurangnya jumlah kapal yang bersedia beroperasi.
Pertanyaan utama pasar saat ini adalah apakah infrastruktur energi akan menjadi target langsung dan seberapa cepat militer AS dapat mengamankan rute pelayaran di Teluk dan Selat Hormuz.
>> Risiko Gangguan Pasokan
Perlu dicatat, Selat Hormuz belum pernah sepenuhnya diblokir. Meski Iran kemungkinan tidak akan mempertahankan blokade jangka panjang, negara tersebut memiliki kemampuan untuk mengganggu lalu lintas secara sementara.
Angkatan Laut AS hampir pasti akan merespons cepat. Namun, bahkan gangguan singkat atau operasi peletakan ranjau dapat berdampak besar terhadap harga dan pasokan global.
Preseden historis menunjukkan risiko tersebut nyata. Pada perang Iran–Irak era 1980-an, Iran pernah menyerang kapal komersial dan kapal Angkatan Laut AS, yang mendorong Presiden Ronald Reagan meluncurkan Operasi Earnest Will untuk mengawal tanker. Ketegangan juga terjadi pada 2007–2008. Terbaru, April 2023, angkatan laut Iran menyita tanker Advantage Sweet yang disewa Chevron di Teluk Oman sebelum akhirnya dilepas lebih dari setahun kemudian.
Saat ini, pasar minyak global relatif masih memiliki bantalan pasokan setelah produksi dari Amerika Serikat, Brasil, Kanada, dan negara lain meningkat dalam beberapa tahun terakhir.
Arab Saudi—eksportir minyak terbesar dunia—juga meningkatkan pengiriman minyak mentah. Dalam beberapa hari terakhir, ekspor diperkirakan melampaui 7 juta barel per hari pada Februari, tertinggi sejak April 2023, menurut perusahaan analisis pelayaran Kpler.
Sementara itu, OPEC+ diperkirakan akan menyetujui peningkatan produksi dalam pertemuan hari Minggu.
Meski demikian, gangguan jalur ekspor dari Timur Tengah berpotensi menghapus sebagian besar tambahan pasokan tersebut, walaupun Arab Saudi dan Uni Emirat Arab memiliki beberapa rute ekspor alternatif.
Skala serangan AS dan Israel serta pernyataan Presiden Trump mengindikasikan Washington bersiap untuk kampanye militer berkelanjutan guna melemahkan kepemimpinan Iran secara signifikan.
Seberapa besar tekanan terhadap kepemimpinan Iran akan menentukan apakah Teheran meningkatkan eskalasi dengan menargetkan fasilitas energi yang lebih luas di kawasan—termasuk ladang minyak, terminal ekspor, dan kilang.
Bahkan tanpa skenario terburuk tersebut, konflik saat ini sudah berpotensi mengganggu pasokan energi vital dari Timur Tengah pada tingkat yang belum terlihat selama beberapa dekade. (GA)