JPMorgan: Investor ritel kripto pindah ke bursa saham

Senin, 02 Maret 2026

image

JAKARTA - Selama bertahun-tahun, investor ritel menjadi bahan bakar paling andal bagi kripto, para pembeli saat harga turun, spekulan memecoin, dan trader momentum yang mendorong setiap reli.Seperti dikutip Bloomberg, kini mereka mulai beralih, membuat mesin permintaan yang selama satu dekade menopang aset digital menjadi tersendat.Menurut laporan terbaru dari market maker Wintermute yang mengutip data JPMorgan Chase & Co., permintaan spekulatif yang dulu terkonsentrasi di kripto kini tersedot ke pasar saham.

Sejak akhir 2024, investor ritel secara bertahap mengalihkan dana ke ekuitas, dan tren ini melonjak tajam setelah kejatuhan kripto pada Oktober 2025.

Ini berbeda dari siklus sebelumnya ketika saham dan aset digital bergerak searah sebagai dua instrumen berisiko tinggi.

Perubahan ini menyentuh fondasi struktur pasar kripto. Tidak seperti saham yang ditopang oleh laba perusahaan, dividen, dan pembelian institusional, kripto selama ini sangat bergantung pada dorongan spekulatif investor ritel sebagai penggerak utama permintaan.

Jika minat itu kini tersebar ke berbagai instrumen saham berisiko tinggi, asumsi bahwa kripto bisa pulih tanpa katalis baru untuk menarik investor ritel kembali menjadi dipertanyakan.

“Pada siklus sebelumnya, selera risiko berlebih dari investor ritel cenderung terkonsentrasi di kripto,” ujar CEO Wintermute, Evgeny Gaevoy.

Kini, katanya, kripto hanyalah salah satu dari sekian banyak kelas aset berisiko dengan profil volatilitas serupa yang bisa digunakan ritel untuk berinvestasi dan berspekulasi.

Kejatuhan Oktober menjadi pemicu utama. Lebih dari US$19 miliar posisi terhapus, US$7 miliar di antaranya lenyap dalam waktu kurang dari satu jam, atau melikuidasi lebih dari 1,6 juta trader, menurut data Coinglass.

Sejak saat itu, menurut Wintermute, terjadi “peralihan hampir total ke ekuitas” yang masih berlangsung.

Bitcoin telah merosot hampir setengahnya dari sekitar US$126.000 dan sempat diperdagangkan di kisaran US$66.000, di tengah kabar serangan AS dan Israel ke Iran, sementara indeks saham justru melaju naik.

Industri kripto pun mencari-cari penjelasan, mulai dari emas, pasar prediksi, hingga memecoin yang kehilangan daya tarik, atas menghilangnya minat ritel.

Namun, menurut Cosmo Jiang, Manajer Portofolio Pantera Capital, daya tarik itu mungkin meluas ke luar saham semata.

Data ETF bulanan menunjukkan lonjakan dana ke aset-aset tematik yang sedang naik daun seperti emas, perak, dan ETF bertema teknologi kuantum, sementara dana keluar terjadi pada ETF berbasis Bitcoin dan Ether.

Dalam tiga bulan terakhir, hampir US$3 miliar ditarik dari ETF spot bitcoin, meski beberapa sesi terakhir mencatat arus masuk kembali.

Sebaliknya, dana saham, dengan rekam jejak lebih panjang dan cakupan jauh lebih luas, terus menyerap dana, begitu pula ETF bertema emas yang mengumpulkan lebih dari US$20 miliar pada periode yang sama.

Ada pula faktor struktural yang lebih dalam: volatilitas kripto, yang dulu menjadi daya tarik utamanya, kini menyempit.

Rasio volatilitas terealisasi bitcoin terhadap Nasdaq terus menurun dan sempat turun di bawah 2 kali lipat pada paruh pertama 2025, menurut Wintermute.

Bagi trader ritel yang mengejar pergerakan harga ekstrem, selisih antara kripto dan saham makin menipis. (DK)