Perang AS-Iran ancam pasar saham, IHSG andalkan dukungan domestik

Senin, 02 Maret 2026

image

JAKARTA – Perang antara Iran melawan Amerika Serikat (AS) dan Israel yang berlangsung sejak akhir pekan lalu, dinilai jadi sentimen negatif bagi pasar saham global.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bahkan diperkirakan kembali turun di bawah 8.000, seperti halnya saat awal Februari lalu setelah MSCI dan lembaga pemeringkat global menyatakan kekhawatiran mereka, terhadap pasar modal hingga kebijakan fiskal Indonesia.

Analis Phintraco Sekuritas menyampaikan serangan militer AS dan Iran akan mengubah profil risiko investor global, meskipun jangka waktunya belum dapat dipastikan.

“ Dampaknya harga energi berpotensi naik dan investor global cenderung mengurangi eksposur terhadap aset yang berisiko,” jelas analis Phintraco, dalam catatan yang disampaikan kepada investor pada Senin (2/3) hari ini.

Dari sisi teknikal, analis Phintraco memperkirakan IHSG berpotensi melemah ke 8.000-7.800 jika gagal bertahan di 8.100 pada pekan ini. “Namun peluang rebound terbuka jika sentimen global mereda dan domestik solid,” ungakp analis Phintraco.

Pada awal bulan ini, investor akan menanti sejumlah indikator ekonomi domestik seperti S&P Global Manufacturing PMI, neraca perdagangan Januari, serta inflasi dan data cadangan devisa Februari 2026.

Di sisi lain, penurunan tarif dalam kesepakatan dagang AS dari 19% menjadi 15% berpotensi menjadi sentimen positif, terutama bagi sektor yang berorientasi pada ekspor.

Pada perdagangan pekan terakhir Februari kemarin, IHSG melemah 1,19% dalam lima hari perdagangan dan tutup di level 8.235 pada Jumat (27/2).

Di pasar komoditas, harga emas di pasar spot naik lebih dari 1,5% ke US$5.360 per troi ons pada awal sesi Asia. Sementara harga minyak mentah jenis WTI dan brent melonjak lebih dari 7% masing-masing di atas US$71 dan U$78 per barel.

Kontrak berjangka untuk indeks S&P 500 turun lebih dari 1%, sementara kontrak berjangka untuk Dow Jones melemah 1,17% dan Nasdaq Composite turun 1,13%.

Indikator VIX, yang mengukur volatilitas pasar saham AS, berada di level 19,85 setelah sempat menyentuh 21,74 pada Jumat lalu. (KR)