Sari Roti milik Grup Salim siapkan bisnis baru, tangkap momentum MBG
Senin, 02 Maret 2026

JAKARTA – PT Nippon Indosari Corpindo Tbk (ROTI), emiten produsen Sari Roti milik Grup Salim, tengah menyiapkan penambahan kegiatan usaha baru yang bergerak di bidang produk pakan ternak.
Manajemen ROTI telah melakukan studi kelayakan terkait rencana tersebut, serta dinyatakan layak untuk menjalankan bisnis baru ini.
“Penambahan kegiatan usaha industri ransum pakan hewan berpotensi memberikan nilai tambah terhadap kegiatan usaha eksisting perseroan,” ungkap Manajemen ROTI, dalam keterangan yang disampaikan kepada Bursa Efek Indonesia (BEI) pekan lalu (27/2).
Laporan dari Kantor Jasa Penilai Publik (KJPP) yang ditunjuk oleh ROTI menyebut, bisnis baru ini terbilang layak berdasarkan kondisi pasar pakan ternak, yang mulai pulih sejak 2021-2023 didukung meningkatnya konsumsi daging dan telur ayam.
Di sisi lain, momentum program Makan Bergizi Gratis (MBG) juga dinilai turut mendukung permintaan terhadap konsumsi daging dan telur ayam di Indonesia.
Dalam laporan tersebut, ROTI berencana memanfaatkan sisa hasil produksi roti sebagai bahan baku pakan ternak pengganti jagung. Strategi ini dinilai sebagai nilai tambah, karena perseroan memiliki pasokan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan protein nabati murah.
Meskipun demikian, Manajemen ROTI akan meminta persetujuan dari Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) untuk melanjutkan rencana bisnis baru ini. Rapat akan digelar pada 7 April 2026 mendatang.
Dalam laporan IDNFinancials.com sebelumnya, ROTI mencetak laba bersih Rp258,5 miliar pada tahun buku 2025. Perolehan ini turun 28,7% secara tahunan atau dari tahun sebelumnya.
Penurunan tersebut sejalan dengan pendapatan ROTI pada 2025 yang hanya mencapai Rp3,8 triliun, turun 4,4% secara tahunan.
Padahal penjualan produk kue dan lainnya pada anak usaha PT Indoritel Makmur Internasional Tbk (DNET) ini, meningkat double digit pada 2025. Namun penjualan secara konsolidasi untuk semua segmen produk turun 4,4% secara tahunan menjadi Rp3,8 triliun, akibat penjualan roti tawar dan manis.
Harga saham ROTI naik tipis 0,65% menjadi Rp770 per lembar pada perdagangan pekan lalu, setara 18,43 kali di atas laba per sahamnya dalam 12 bulan terakhir. Namun harga sahamnya dalam setahun terakhir telah turun lebih dari 15%. (KR)