UBS: Keunggulan bursa saham Amerika mulai memudar

Senin, 02 Maret 2026

image

JAKARTA — Kepala Strategi Ekuitas Global UBS Group AG, Andrew Garthwaite, menurunkan peringkat saham Amerika Serikat menjadi posisi “benchmark” dalam portofolio ekuitas global yang diinvestasikan penuh.

UBS adalah bank yang berkantor pusat di Zurich, Swiss, dan merupakan salah satu bank terbesar di dunia, khususnya di bidang manajemen kekayaan (wealth management), investment banking, dan manajemen aset.

Langkah tersebut mencerminkan pandangan UBS bahwa sejumlah faktor yang selama ini menopang kinerja unggul saham AS mulai kehilangan momentum.

Salah satu risiko utama yang disoroti adalah pergerakan dolar AS. UBS memperkirakan euro berpotensi menguat hingga US$1,22 pada akhir kuartal I, sekaligus melihat adanya “risiko penurunan struktural asimetris” terhadap dolar.

Secara historis, pelemahan indeks dolar berbobot perdagangan sebesar 10% cenderung diikuti kinerja saham AS yang tertinggal sekitar 4% dalam basis tanpa lindung nilai.

Sepanjang tahun ini, pasar saham di luar Amerika Serikat tercatat mengungguli Wall Street. Pelemahan dolar AS dan valuasi yang relatif lebih murah mendorong aliran modal ke pasar internasional.

Seperti dikutip CNBC pada Jumat (27/2), indeks MSCI World ex-US naik sekitar 8% sepanjang 2026, sementara kinerja S&P 500 relatif stagnan. Di sisi lain, indeks Nikkei 225 melonjak 17% sejak awal tahun, sedangkan Stoxx Europe 600 menguat sekitar 7%, menegaskan terjadinya rotasi tajam dari ekuitas AS ke pasar global.

Tekanan juga kembali muncul di pasar saham AS pada Jumat, seiring meningkatnya kekhawatiran investor terhadap potensi dampak negatif perkembangan kecerdasan buatan serta inflasi domestik yang masih persisten.

Buyback Kehilangan Daya Dorong

UBS juga menyoroti melemahnya peran pembelian kembali saham (buyback), yang selama ini menjadi salah satu pilar kekuatan pasar saham AS.

Menurut UBS, imbal hasil buyback di Amerika Serikat kini hanya sebanding dengan negara lain, sehingga mengikis salah satu faktor utama yang selama ini mendorong pertumbuhan laba per saham (EPS) dan arus dana investor. Bahkan, gabungan imbal hasil pemegang saham dari dividen dan buyback di AS kini hanya sekitar setengah dari level di Eropa.

“Imbal hasil buyback tidak lagi luar biasa dan ini telah menjadi pendorong penting arus dana, EPS, dan valuasi,” tulis Garthwaite.

Valuasi Terlalu Mahal

Faktor lain yang menambah kekhawatiran adalah valuasi. UBS menghitung rasio harga terhadap laba (P/E) sektoral saham AS sekitar 35% lebih tinggi dibandingkan pasar global, jauh di atas premi rata-rata sekitar 4% sejak 2010.

Sekitar 60% sektor di pasar AS diperdagangkan tidak hanya pada kelipatan yang lebih tinggi dibandingkan rekan globalnya, tetapi juga berada di atas premi historis masing-masing sektor.

UBS juga menilai volatilitas kebijakan di bawah Presiden Donald Trump turut menjadi hambatan bagi pasar. Beberapa isu yang disorot antara lain perubahan kebijakan tarif, usulan pembatasan suku bunga kartu kredit, potensi pembatasan investasi private equity di sektor perumahan, peninjauan ulang harga obat, serta wacana pembatasan dividen dan buyback bagi perusahaan pertahanan.

Meski menurunkan peringkat saham AS, UBS menegaskan tidak sepenuhnya bersikap bearish. Garthwaite menilai ekonomi dan ekuitas AS secara historis masih cenderung unggul pada fase awal potensi pembentukan gelembung pasar.

Selain itu, UBS memperkirakan adopsi kecerdasan buatan di Amerika Serikat akan melampaui sebagian besar kawasan utama lainnya, dengan kemungkinan pengecualian China, sehingga tetap dapat menopang pertumbuhan pendapatan lintas sektor.

Sementara itu, Ahli Strategi UBS Sean Simonds menetapkan target akhir tahun untuk S&P 500 di level 7.500, sedikit di bawah konsensus rata-rata 7.629 dari 14 analis terkemuka. (GA)