MA sidang kasus saham terbesar di Singapura, apa argumen pembela?
Senin, 24 November 2025

JAKARTA - Mahkamah Agung Singapura memutuskan untuk menangguhkan keputusan akhir terkait permohonan pengurangan masa hukuman bagi dua dalang utama di balik skandal manipulasi pasar saham terbesar dalam sejarah negara tersebut.
Dalam sidang penutup yang digelar pada Jumat (21/11), majelis hakim mendengarkan argumen sengit antara pihak pembelaan dan penuntut umum mengenai nasib John Soh Chee Wen dan Quah Su-Ling, arsitek di balik kejatuhan saham penny stock pada 2013 yang mengguncang bursa Singapura.
Seperti dilansir dari theedgesingapore.com (21/11) , John Soh saat ini tengah menjalani hukuman penjara 36 tahun, sementara Quah Su-Ling divonis 20 tahun penjara. Keduanya hadir di pengadilan setelah upaya banding untuk membatalkan vonis bersalah mereka ditolak bulan lalu.
Quah, yang mulai menjalani masa tahanan sejak 17 Oktober, tampil mengenakan pakaian penjara berwarna ungu dengan tangan terborgol, duduk di kursi terdakwa di samping Soh. Sidang ini juga diwarnai momen emosional singkat dengan kehadiran cucu balita Quah di galeri publik sebelum prosiding dimulai.
Fokus utama pembelaan John Soh, yang dipimpin oleh Penasihat Hukum Senior N Sreenivasan, adalah argumen proporsionalitas hukuman.
Sreenivasan membandingkan vonis kliennya dengan kasus keruntuhan Barings Bank pada 1995 akibat ulah pialang Nick Leeson.
Ia mempertanyakan prinsip hukum yang membenarkan Soh menerima hukuman tujuh kali lebih berat (36 tahun) dibandingkan Leeson (6,5 tahun) yang menyebabkan kerugian lebih dari US$1 miliar. Sreenivasan berargumen bahwa hukuman harus mencerminkan totalitas dan skala yang wajar secara profesional.
Selain itu, pembelaan berusaha menggeser sebagian tanggung jawab atas kehancuran harga saham pada 4 Oktober 2013. Mereka berdalih bahwa kerugian pasar juga dipicu oleh motif pribadi kelompok pedagang lain yang dikenal sebagai "Manhattan House Group", serta intervensi regulator (SGX dan SIAS) yang memicu kepanikan pasar.
Menurut pembelaan, Soh tidak seharusnya dihukum atas kerusakan yang disebabkan oleh faktor eksternal tersebut.
Argumen ini dibantah keras oleh Jaksa Penuntut Umum, Jiang Ke-Yue, yang menyebut skema manipulasi BAL (Blumont, Asiasons, Liongold) tidak memiliki preseden yang setara. Menggunakan metafora tajam, Jaksa menggambarkan tindakan para terdakwa sebagai upaya "membangun istana kartu dari nol" dan kini mencoba "menyalahkan angin" ketika istana tersebut runtuh.
Penuntut umum menegaskan bahwa karena para terdakwa memegang kendali penuh atas skema tersebut sejak awal termasuk mengawasi operasi perdagangan dan merekrut ratusan akun mereka harus bertanggung jawab penuh atas hasil akhirnya.
Sidang juga mencatat insiden disipliner ketika pengacara Quah, S Nithyanantham, menyampaikan permintaan maaf terbuka kepada pengadilan. Ia mengaku bersalah atas perilaku tidak pantas dalam sidang sebelumnya, di mana ia menuduh hakim pengadilan tingkat pertama bersikap bias dan melakukan intervensi berlebihan.
Ketua Mahkamah Agung Sundaresh Menon memberikan teguran keras atas tindakan tersebut, menyebutnya sebagai langkah hukum yang keliru meski sudah diperingatkan. Majelis hakim akhirnya memutuskan untuk menunda pembacaan putusan (reserved judgment) ke tanggal yang belum ditentukan. (SF)