Dominasi derivatif dan investor institusi ubah dinamika harga bitcoin?
Senin, 02 Maret 2026

JAKARTA = CEO Blockstream, Adam Back, mengatakan kepada CNBC bahwa pasar bitcoin saat ini kekurangan dukungan di sisi bawah (downside support) karena investor ritel telah “berinvestasi penuh” dan tidak memiliki likuiditas tersisa untuk membeli saat harga turun.
Kondisi ini, menurutnya, membantu menjelaskan penurunan harga sekitar 25% sejak awal tahun. Back menjelaskan bahwa pelemahan bitcoin selama fase aksi jual sangat dipengaruhi oleh pola kepemilikan investor ritel.
Berbeda dengan investor saham konvensional yang dapat menjual satu aset untuk membeli aset lain ketika valuasi lebih menarik, investor ritel bitcoin umumnya telah mengalokasikan seluruh dana mereka ke kripto.
“Bitcoin cenderung sedikit lebih lemah saat terjadi penurunan karena banyak investor ritel akhirnya berinvestasi penuh,” ujar Back. “Mereka tidak memiliki banyak modal tersisa untuk membeli bitcoin.”
Ia membandingkan kondisi tersebut dengan pasar saham, di mana reksa dana atau investor institusional dapat menjual saham Microsoft untuk membeli Tesla ketika valuasi Tesla dinilai lebih menarik.
Sebaliknya, dikutip dari Yahoo Finance (27 Februari 2026), investor ritel bitcoin tidak memiliki fleksibilitas serupa karena portofolio mereka sepenuhnya terfokus pada kripto tanpa aset lain yang dapat dijual. Kondisi ini menciptakan masalah struktural.
Ketika harga bitcoin turun, pemegang yang ada tidak memiliki “amunisi” likuid untuk melakukan pembelian tambahan. Akibatnya, tidak terbentuk basis pembeli alami dari kelompok pemegang saat ini untuk menahan penurunan harga.
Namun, Back menilai masuknya investor institusional mulai mengubah dinamika pasar. Investor institusional memiliki kemampuan untuk mengalihkan dana antar kelas aset, seperti menjual obligasi atau saham untuk membeli bitcoin ketika harganya dinilai murah.
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa hal ini juga membawa konsekuensi: dalam jangka pendek, pergerakan bitcoin berpotensi semakin sejalan dengan sentimen risiko pasar global.
Back juga membela perusahaan-perusahaan perbendaharaan bitcoin dari anggapan bahwa mereka memperburuk tekanan harga.
Menurutnya, perusahaan-perusahaan tersebut justru berperan mendukung harga melalui strategi beli dan tahan (buy and hold) serta akumulasi berkelanjutan—pendekatan yang dipelopori oleh MicroStrategy beberapa tahun lalu.
“Mereka pada umumnya mendukung harga bitcoin karena sebagian besar mencoba menahan, membeli, dan mengakumulasi,” kata Back. “Mereka secara efektif menarik bitcoin dari pasar. Bahkan saat ini mereka masih membeli bitcoin.”
Back menambahkan bahwa perusahaannya, Bitcoin Standard Treasury, menargetkan persetujuan SPAC sekitar April.
Ia menilai harga bitcoin yang lebih rendah justru memberikan keuntungan berupa titik masuk yang lebih murah untuk akumulasi, dengan ambisi menjadikan perusahaannya sebagai pemain terbesar ketiga secara global di antara perusahaan perbendaharaan bitcoin.
>> Investor Institusional
Charles d’Haussy, CEO dYdX, platform derivatif kripto, membenarkan bahwa investor institusional kini telah menjadi kekuatan utama di pasar derivatif kripto, menggantikan dominasi trader ritel yang sebelumnya mengandalkan leverage untuk spekulasi jangka pendek.
Dalam wawancara terbaru, d’Haussy mengatakan bahwa sejak 2025, lembaga besar mulai terlibat secara signifikan dalam perdagangan kontrak berjangka dan instrumen derivatif lainnya, baik di bursa terdesentralisasi maupun terpusat, terutama untuk kebutuhan lindung nilai dan pengelolaan risiko portofolio.
“It all started with retail. Now institutions are really a major part of the crypto derivative markets overall,” ujar d’Haussy.
Selain itu, analisis Cointelegraph yang ditulis oleh Marcel Pechman menunjukkan bahwa pasar futures dan options bitcoin menampilkan sinyal kehati-hatian meski harga sempat mencoba mendekati level US$70.000.
Menurut laporan tersebut, tekanan harga tidak hanya dipengaruhi oleh aksi jual ritel, tetapi juga mencerminkan sentimen yang lebih luas di pasar derivatif, termasuk posisi lindung nilai para pemain besar serta arus keluar dari ETF dan kontrak derivatif yang menekan momentum harga.
Laporan itu menyimpulkan bahwa rendahnya premi di pasar derivatif dan sikap risk-off pelaku pasar mencerminkan kekhawatiran yang lebih mendalam di pasar berjangka, sekaligus menegaskan bahwa dinamika harga bitcoin saat ini tidak semata digerakkan oleh arus ritel, melainkan oleh keputusan institusional di arena derivatif. (GA/MT)