Ekspor wine dan bir Amerika ke Kanada anjlok 26% pada 2025
Senin, 02 Maret 2026

JAKARTA - Gerakan “beli produk Kanada” dilaporkan mulai menekan kinerja ekspor minuman wine dan bir Amerika Serikat.
Menyusul perang dagang yang dipicu kebijakan tarif Presiden AS Donald Trump, ekspor bir dan anggur AS tercatat turun sebesar US$472 juta pada 2025 atau merosot 26% dibandingkan 2024, menurut laporan terbaru Biro Sensus AS.
Secara khusus, ekspor anggur mengalami kontraksi signifikan. Nilainya dilaporkan turun sekitar sepertiga secara tahunan, terutama akibat merosotnya pengiriman ke Kanada.
Pada 2024, Kanada merupakan pasar negara tunggal terbesar bagi ekspor minuman kemasan AS, sebagaimana dicatat BMO dalam laporan industri anggur Amerika Serikat dan Kanada.
Namun, setelah penerapan tarif oleh pemerintah AS serta menguatnya kampanye “beli produk lokal” di Kanada, ekspor anggur AS anjlok dari US$1,3 miliar pada 2024 menjadi US$850 juta pada 2025.
Penurunan tersebut setara kontraksi 33,5% atau kerugian sekitar US$428 juta, menurut laporan Robb Report. Pengiriman ke Kanada jadi faktor utama penurunan tajam ekspor anggur terutama dipicu oleh merosotnya pengiriman ke Kanada hingga 76,8%.
Dikutip, nationalpost.com, Feb 28, 2026, CEO Lawrence Wine Estates yang berbasis di Napa Valley, Carlton McCoy, mengatakan kondisi ini merupakan kombinasi berbagai faktor. Menurutnya, pelemahan tidak hanya dipengaruhi kebijakan perdagangan global, tetapi juga sentimen negatif terhadap produk buatan Amerika.
“Situasi ini merupakan kombinasi dari perkembangan terbaru dalam kebijakan perdagangan global serta sentimen negatif secara umum terhadap produk apa pun yang dibuat di AS, bukan hanya anggur,” ujarnya kepada Robb Report.
Data Biro Sensus AS menunjukkan ekspor tahunan kategori anggur, bir, dan produk terkait, termasuk sari apel, minuman siap minum, anggur bersoda, dan vermouth—turun dari US$1,7 miliar pada 2024 menjadi US$1,2 miliar pada 2025.
Sementara itu, ekspor minuman beralkohol selain anggur juga melemah, dari US$3,1 miliar menjadi US$2,8 miliar pada periode yang sama, menimbulkan kerugian sekitar US$215 juta.
Presiden Donald Trump sebelumnya berargumen bahwa kebijakan tarif akan mendorong konsumsi produk buatan Amerika. Namun, laporan The New York Times menyebut hanya sedikit produsen anggur AS yang merasakan manfaat tersebut.
Sebaliknya, banyak pelaku industri menilai kebijakan tarif justru memperumit operasional bisnis, memicu ketidakpastian, serta meningkatkan resistensi terhadap produk Amerika di pasar global. (GA)