Iran: Amerika tak punya urgensi serang Iran,Trump lewati garis merah

Senin, 02 Maret 2026

image

JAKARTA – Pemerintah Iran secara tegas menyatakan bahwa Presiden Amerika Serikat Donald Trump telah melewati garis merah yang sangat berbahaya menyusul pembunuhan terhadap Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei.

Seperti dikutip cnn.com (01/03/2026) melalui wawancara eksklusif pada hari Minggu, Wakil Menteri Luar Negeri Iran Saeed Khatibzadeh memperingatkan bahwa status Khamenei sebagai pemimpin agama besar akan memicu reaksi keras dari para pengikut Syiah di seluruh kawasan dan penjuru dunia.

Merespons pembunuhan tersebut, Khatibzadeh menegaskan bahwa Teheran kini tidak memiliki pilihan lain selain memberikan balasan militer yang setimpal atas tindakan AS.

Ancaman balasan tersebut langsung direalisasikan di lapangan. Menyusul serangan AS pada hari Sabtu, Iran merespons dengan melancarkan gelombang serangan balasan berskala besar yang belum pernah terjadi sebelumnya di seluruh Timur Tengah.

Gempuran ini menargetkan beberapa negara yang selama ini menampung pangkalan militer AS, termasuk Bahrain dan Uni Emirat Arab (UEA).

Sepanjang akhir pekan, rentetan serangan tersebut terus berlanjut hingga mengakibatkan jatuhnya korban jiwa dari warga sipil, kerusakan properti yang masif, serta melumpuhkan total lalu lintas udara dan jalur perairan di kawasan tersebut.

Mengingat militer Iran tidak dapat menjangkau daratan Amerika secara langsung, Khatibzadeh membenarkan bahwa mereka terpaksa menyerang pangkalan mana pun yang berada di bawah yurisdiksi AS.

Sebelum melancarkan eskalasi regional ini, Teheran mengklaim telah berkomunikasi dengan negara-negara Arab di Teluk yang menampung pasukan Amerika.

Khatibzadeh menyampaikan ultimatum yang jelas: "Tutup pangkalan-pangkalan AS yang secara konstan mengancam Iran, atau Teheran terpaksa melawan balik."

Ketika ditanya apakah jalur diplomasi masih menjadi opsi yang terbuka, ia menegaskan bahwa AS telah mengecewakan Iran berkali-kali dan sebenarnya tidak ada urgensi bagi Washington untuk memulai agresi ini.

Pejabat senior tersebut menutup pernyataannya dengan menegaskan bahwa jika Presiden Trump tidak ingin melihat Iran membalas serangan, ia seharusnya tidak memulai "perang pilihan" ini sejak awal.

Bulan Januari lalu, menjelang kedatangan kelompok kapal induk serang militer Amerika di Timur Tengah, seorang pejabat senior Iran menegaskan memperlakukan setiap serangan sebagai perang habis-habisan.

“Kali ini kami akan memperlakukan setiap serangan, terbatas, tidak terbatas, bedah (surgical), kinetik, atau apa pun istilah yang mereka gunakan, sebagai perang habis-habisan terhadap kami, dan kami akan merespons dengan cara sekeras mungkin untuk menyelesaikannya,” kata pejabat tersebut.

“Sebuah negara yang terus-menerus berada di bawah ancaman militer Amerika Serikat tidak memiliki pilihan lain selain memastikan bahwa segala sesuatu yang dimilikinya dapat digunakan untuk melawan dan, jika memungkinkan, memulihkan keseimbangan terhadap siapa pun yang berani menyerang Iran,” ujar pejabat itu. (SF)