Pasokan LNG terhambat, harga gas Eropa meroket 25%
Senin, 02 Maret 2026

JAKARTA - Harga gas alam Eropa melonjak tajam setelah eskalasi konflik di Timur Tengah memicu kekhawatiran akan terganggunya pasokan energi global.
Kontrak berjangka acuan sempat melesat hingga 25%, kenaikan terbesar sejak Agustus 2023, menyusul terhentinya sebagian besar lalu lintas kapal tanker melalui Selat Hormuz pada akhir pekan.
Seperti dikutip Bloomberg, jalur laut sempit tersebut merupakan rute vital pengiriman energi dunia, mengangkut sekitar seperlima ekspor gas alam cair (LNG) global. Harga minyak juga ikut naik signifikan.
Kondisi ini berpotensi menjadi guncangan terbesar bagi pasar gas sejak invasi Rusia ke Ukraina empat tahun lalu yang mengacaukan perdagangan energi dunia.
Meski sebagian besar LNG dari Timur Tengah dibeli negara-negara Asia, gangguan pasokan akan meningkatkan persaingan untuk sumber alternatif dan mendorong kenaikan harga secara global, termasuk di Eropa.
Eropa berada dalam posisi yang cukup rentan. Walaupun musim dingin hampir berakhir dan konsumsi gas mulai menurun, tingkat persediaan bahan bakar masih tergolong rendah.
Kawasan tersebut perlu mengimpor LNG dalam jumlah besar selama musim panas untuk mengisi kembali cadangan sebelum musim pemanasan berikutnya.
Pelaku pasar kini mencermati berapa lama Selat Hormuz akan tetap tertutup, karena semakin lama penutupan berlangsung, semakin tinggi pula potensi lonjakan harga.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump dalam wawancara dengan New York Times menyatakan bahwa pengeboman terhadap Iran diperkirakan akan berlanjut selama empat hingga lima minggu ke depan.
Menurut Goldman Sachs, penghentian pengiriman melalui Hormuz selama satu bulan dapat membuat harga gas Eropa melonjak lebih dari dua kali lipat.
Hal ini akan menjadi kejutan besar, terutama setelah harga acuan sempat turun 19% bulan lalu berkat cuaca yang relatif hangat dan pasokan yang memadai.
Analis menilai situasi ini dapat menyulitkan upaya pengisian kembali penyimpanan gas dalam beberapa bulan mendatang, sekaligus menambah tekanan pada biaya energi sektor industri.
Konflik memanas setelah Amerika Serikat dan Israel menyerang Iran, yang kemudian membalas dengan serangan ke sejumlah negara.
Kapal-kapal LNG yang dijadwalkan memuat kargo di Qatar dan Uni Emirat Arab kini dilaporkan menunda atau mengalihkan rute pelayarannya.
Israel juga memerintahkan penutupan sementara beberapa fasilitas produksi gas sebagai langkah pengamanan. Langkah ini mendorong Mesir, sebagai importir utama, untuk mencari tambahan kargo LNG.
Salah satu proyek besar yang terdampak adalah ladang gas Leviathan, yang sebelumnya juga pernah dihentikan operasinya saat ketegangan Israel-Iran memuncak pada Juni lalu.
Meski Iran menyatakan tidak berniat menutup Selat Hormuz, sejumlah kapal mulai menghindari jalur tersebut segera setelah konflik pecah.
Qatar pun mengumumkan penghentian sementara seluruh aktivitas navigasi maritimnya.
Pelaku pasar menilai pasar gas Eropa lebih sensitif terhadap penutupan de facto Selat Hormuz dibandingkan pasar minyak, karena dampaknya dapat segera terasa pada pasokan fisik.
Pada perdagangan pagi di Amsterdam, kontrak berjangka gas acuan Eropa yang diperdagangkan di Belanda tercatat naik 21% menjadi €38,72 per megawatt-jam. (DK)