Perusahaan hipotek Inggris MFS kolaps, saham Goldman Sachs terdampak

Senin, 02 Maret 2026

image

WASHINGTON – Raksasa keuangan Wall Street mengalami tekanan signifikan dalam perdagangan semalam setelah kolapsnya Market Financial Solutions (MFS), perusahaan hipotek besar asal Inggris, yang mengguncang pasar global.

[[ Perusahaan hipotek adalah perusahaan  yang menyediakan dana untuk membeli rumah atau properti, biasanya dengan model pinjaman berbasis jaminan aset.]]

Seperti dikutip news.com.au, pemicu utama gejolak ini adalah runtuhnya MFS yang dikabarkan menghadapi potensi kekurangan jaminan (shortfall) sebesar £930 juta atau sekitar 1,8 miliar dolar Australia untuk mendukung pinjamannya.

Pada 20 Februari 2026, MFS mengajukan permohonan ke pengadilan untuk masuk ke proses administrasi. Langkah ini mengejutkan industri, mengingat beberapa bulan sebelumnya perusahaan melaporkan portofolio pinjaman sebesar £2,4 miliar dan pendapatan tahunan rekor £71 juta.

Kreditur Zircon Bridging dan Amber Bridging menuduh perusahaan berbasis di London itu menggunakan aset yang sama sebagai jaminan untuk beberapa pinjaman berbeda.

Kejatuhan MFS terjadi di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap investasi private equity di perusahaan perangkat lunak, yang valuasinya terus tertekan akibat perkembangan kecerdasan buatan (AI) yang berpotensi membuat sejumlah model bisnis menjadi usang. Kolapsnya MFS membuat investor khawatir dampaknya akan merembe berbagai perusahaan Wall Street raksasa yang kebanaka memiliki ekspour besar pada lembaga lembaga keuangan semacam MFS.

Saham Goldman Sachs anjlok lebih dari 7%, sementara Citigroup turun lebih dari 5% dan Bank of America kehilangan sekitar 4% nilai sahamnya.

Gejolak di New York turut membebani sentimen investor Australia. Kontrak berjangka ASX 200 melemah 22 poin atau 0,2% ke level 9.148, menandakan pembukaan perdagangan yang rapuh pada awal pekan.

Sektor Teknologi

Pada saat yang hampr bersamaan, menurut news.com.au, ribuan karyawan di sektor teknologi kehilangan pekerjaan, .

Kekhawatiran soal pemutusan hubungan kerja massal pun terbukti. Pekan ini, ribuan pekerja di sektor teknologi diberhentikan.

Di Australia, raksasa teknologi WiseTech Global memangkas sekitar 2.000 pekerjaan dalam dua tahun ke depan seiring pergeseran besar-besaran ke teknologi AI. Langkah ini akan merombak hampir sepertiga tenaga kerja globalnya. Perusahaan mengonfirmasi pemangkasan akan berdampak pada sekitar 29% karyawan di 40 negara, dengan beberapa tim dipangkas hingga setengahnya.

Divisi produk dan pengembangan, serta layanan pelanggan, menjadi yang pertama terdampak seiring implementasi AI di platform perangkat lunak dan operasi internal. Hingga 30 Juni 2025, WiseTech mempekerjakan lebih dari 3.600 orang di seluruh dunia.

Sementara itu, induk perusahaan buy-now-pay-later Afterpay, Block, Inc., juga memangkas hampir separuh tenaga kerjanya. Keputusan drastis ini disebut banyak pihak sebagai “alarm awal” bagi industri teknologi besar.

Perusahaan yang dipimpin miliarder sekaligus salah satu pendiri Twitter, Jack Dorsey, mengumumkan pengurangan hampir setengah dari total lebih 10.000 karyawan menjadi kurang dari 6.000 orang, sehingga sekitar 4.000 pekerja kehilangan pekerjaan.

Dalam pernyataannya di platform X, Dorsey menyebut keputusan tersebut sebagai salah satu yang paling sulit dalam sejarah perusahaan. Ia menegaskan bisnis perusahaan sebenarnya tetap tumbuh, dengan pertumbuhan 24% dan laba tahunan mencapai 24 miliar dolar, namun perubahan lanskap industri teknologi memaksa penyesuaian besar.

Meski tidak secara eksplisit menyebut AI sebagai alasan utama, Dorsey mengakui bahwa “alat kecerdasan yang kami ciptakan” telah mengubah cara bisnis beroperasi secara fundamental. (DK)