Kuwait keliru tembak jatuh tiga jet tempur F-15 Amerika

Selasa, 03 Maret 2026

image

DUBAI – Perang udara Amerika Serikat–Israel melawan Iran meluas pada hari Senin dan belum menunjukkan tanda-tanda akan berakhir. Israel menyerang Lebanon sebagai balasan atas serangan Hizbullah, sementara Teheran menembakkan rudal dan drone ke negara-negara Teluk serta sebuah pangkalan udara Inggris sejauh Siprus.

Pertahanan Angkatan Udara Kuwait, seperti dikutip Reuters (2/3), secara keliru menembak jatuh tiga jet tempur F-15E milik Amerika Serikat saat berlangsungnya serangan Iran.

Seluruh enam awak pesawat berhasil melontarkan diri menggunakan parasut dan dievakuasi dengan selamat. Sebuah video yang direkam di lokasi dan diverifikasi Reuters memperlihatkan salah satu jet berputar jatuh dari langit dengan salah satu mesinnya terbakar.

Komando Pusat Amerika Serikat (United States Central Command/CENTCOM) melaporkan bahwa jet tempur F-15 Strike Eagle tersebut ditembak secara keliru saat menjalankan patroli di tengah situasi pertempuran aktif melawan serangan pesawat, rudal balistik, dan drone Iran. Pemerintah Kuwait mengakui insiden tersebut dan menyatakan dukungan penuh terhadap operasi militer AS yang diberi nama sandi Operation Epic Fury.

Pilot AS dilaporkan mendarat dengan parasut di wilayah Al Jahra, sekitar 30 kilometer dari Pangkalan Udara Ali Al Salem. Rekaman lain menunjukkan jet tempur tersebut berputar tak terkendali sebelum akhirnya jatuh, disaksikan warga dengan kepulan asap hitam membumbung di kejauhan.

Sejumlah saksi mata sempat mengira pesawat itu milik Iran, sebelum menyadari bahwa jet tersebut adalah milik Amerika Serikat. Hingga kini, penyebab pasti insiden salah tembak tersebut masih dalam penyelidikan.

Setelah akhir pekan pengeboman yang menewaskan pemimpin tertinggi Iran, menyeret negara-negara tetangga ke dalam konflik, serta menghentikan lalu lintas pelayaran di Teluk, pasar global dibuka pada hari Senin dengan lonjakan tajam harga energi. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran terhadap pemulihan ekonomi dunia.

Dalam pengarahan resmi Pentagon pertama sejak kampanye militer dimulai, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menolak menetapkan kerangka waktu untuk mengakhiri operasi, dengan menyatakan bahwa keputusan tersebut berada di tangan Presiden Donald Trump.

Tujuan militer operasi ini, kata Hegseth, adalah menghancurkan kemampuan Iran untuk memproyeksikan kekuatan di luar perbatasannya, yang menurut Washington digunakan sebagai perlindungan untuk mengembangkan senjata nuklir.

“Kami menyerang mereka secara presisi, masif, dan tanpa permintaan maaf,” ujarnya.

Ketua Kepala Staf Gabungan AS, Jenderal Dan Caine, menggambarkan kampanye ini sebagai penggunaan kekuatan luar biasa, termasuk serangan terhadap lebih dari 1.000 target dalam 24 jam pertama. Ia menambahkan bahwa lebih banyak pasukan masih dalam perjalanan ke kawasan tersebut.

“Ini bukan operasi satu malam. Tujuan militer yang ditugaskan kepada CENTCOM dan Pasukan Gabungan akan membutuhkan waktu untuk dicapai, dan dalam beberapa kasus akan menjadi pekerjaan yang sulit dan melelahkan,” kata Caine.

Namun demikian, para pemimpin ulama konservatif Iran tidak menunjukkan tanda-tanda akan menyerahkan kekuasaan. Para analis militer menilai kekuatan udara AS dan Israel, tanpa kehadiran pasukan darat, mungkin tidak cukup untuk menyingkirkan mereka.

Sementara itu, puluhan warga Iran dilaporkan tewas akibat serangan udara, termasuk dalam beberapa insiden yang diduga mengenai sasaran sipil. “Mereka membunuh anak-anak dan menyerang rumah sakit. Apakah ini jenis demokrasi yang ingin dibawa Trump kepada kami? Orang-orang tak bersalah pertama kali dibunuh oleh rezim, dan sekarang oleh Israel dan Amerika Serikat,” kata Morteza Sedighi (52), seorang guru, melalui sambungan telepon dari Tabriz, Iran barat laut. (YS)