Strategi militer Iran makin agresif usai perang Juni 2025
Selasa, 03 Maret 2026

TEHERAN - Strategi militer Iran mengalami pergeseran signifikan sejak perang 12 hari dengan Israel pada Juni 2025.
Jika sebelumnya serangan balasan Teheran cenderung terukur dan bersifat simbolis, kini pendekatannya dinilai lebih agresif dan berfokus pada kelangsungan rezim.
Setelah kematian Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei dikonfirmasi media pemerintah, Garda Revolusi Iran atau Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) bersumpah membalas dan melancarkan apa yang mereka sebut sebagai operasi ofensif terberat dalam sejarah angkatan bersenjata Iran terhadap Israel dan pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan Teluk.
Seperti dikutip Aljazeera, Kepala angkatan bersenjata Iran, Amir Hatami, juga menegaskan komitmen untuk terus mempertahankan negara, sementara militer mengklaim jet tempurnya menyerang pangkalan AS di wilayah Teluk.
Ini bukan pertama kalinya Iran menargetkan Israel dan aset militer AS. Pada konflik Juni tahun lalu, Teheran menembakkan rudal balistik ke Israel dan ke Pangkalan Udara Al Udeid Air Base di Qatar.
Namun sebagian besar serangan saat itu berhasil dicegat dan dinilai lebih sebagai langkah "penyelamatan muka".
Kini, menurut analis pertahanan, strategi Iran telah direvisi menjadi lebih ofensif, dengan fokus utama pada mempertahankan kelangsungan Republik Islam. Struktur militernya yang kompleks memang dirancang untuk tujuan itu. (DK)