Konflik Timur Tengah ganggu ekspor daging merah Australia
Selasa, 03 Maret 2026

TEHERAN - Konflik yang meluas di Timur Tengah mulai mengganggu rantai pasok pertanian Australia, terutama ekspor daging merah bernilai tinggi ke kawasan tersebut, di tengah potensi lonjakan biaya bahan bakar dan pupuk jika perang berkepanjangan.
Sejumlah pelabuhan di Uni Emirat Arab, Kuwait, Bahrain, Qatar, dan Arab Saudi bagian timur ditutup, menghambat pengiriman daging Australia yang tengah dalam perjalanan.
Seperti dikutip Beefcentral, Kawasan Timur Tengah memang hanya menyerap sekitar 10% ekspor daging domba Australia dan 3-4% ekspor daging sapi, namun volumenya bernilai tinggi.
Penutupan wilayah udara juga langsung menghentikan pengiriman daging domba segar dan sapi grainfed yang biasanya diangkut di kargo pesawat penumpang maskapai Timur Tengah.
Mengingat umur simpan produk segar yang pendek, gangguan lebih dari beberapa hari dapat berdampak signifikan terhadap perdagangan.
Di dalam negeri kawasan tersebut, sektor restoran dan kafe terpukul karena pembatasan aktivitas warga. Sebaliknya, penjualan ritel dan supermarket dilaporkan meningkat, terutama secara daring, seiring konsumen menimbun bahan pangan.
Dampak konflik juga terasa di pasar ternak domestik Australia. Lalu lintas pelayaran melalui Selat Hormuz, jalur vital penghubung Teluk Persia dengan Laut Arab, nyaris terhenti.
Sekitar 20 juta barel minyak mentah melintasi selat itu setiap hari, setara 20% konsumsi global, menurut U.S. Energy Information Administration.
Teluk Persia memproduksi sekitar 30% minyak mentah dunia serta porsi serupa urea untuk pupuk nitrogen global. Lonjakan harga minyak hingga 13% pada awal perdagangan pekan ini memperbesar risiko biaya logistik dan produksi bagi eksportir Australia.
Delapan negara produsen minyak utama sepakat menaikkan produksi April sebesar 206.000 barel per hari guna meredakan kekhawatiran pasokan global.
Namun, pengalihan rute kapal dan biaya tambahan sudah mulai membebani eksportir Australia. Beberapa kapal pengangkut ternak berada di kawasan tersebut, termasuk Al Messilah, MV Bahijah, Ocean Swagman, dan Balha One.
Meski demikian, tidak ada ternak Australia yang dilaporkan berada di kapal di wilayah konflik saat ini. Australian Livestock Exporters' Council menyatakan terus memantau situasi bersama pemerintah, dengan menempatkan keselamatan pekerja dan kesejahteraan hewan sebagai prioritas utama.
Pelaku ekspor daging sapi Australia mengaku khawatir atas ketidakpastian durasi konflik, terutama karena pengiriman udara praktis berhenti dan perusahaan pelayaran pendingin menolak menerima kontainer berpendingin di pelabuhan Timur Tengah.
Ada pula kekhawatiran dampak terhadap perdagangan ke Eropa dan Inggris melalui Terusan Suez.
Namun, sebagian pengiriman Australia ke Uni Eropa sudah lebih dulu dialihkan melalui Tanjung Harapan di Afrika, sehingga gangguan tambahan dinilai terbatas untuk rute tersebut. (DK)