Raksasa pelayaran dunia putuskan hindari, Selat Hormuz lumpuh
Selasa, 03 Maret 2026

TEHERAN - Konflik yang memanas antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran memicu gangguan serius pada jalur pelayaran global, terutama di Selat Hormuz, jalur vital distribusi minyak dunia.
Seperti dikutip News24, sejumlah perusahaan pelayaran besar menghentikan operasionalnya di kawasan Teluk seiring meningkatnya risiko keamanan.
Selat Hormuz, yang menghubungkan Teluk Persia dengan Samudra Hindia dan berada di antara Iran serta eksklave Musandam milik Oman, selama ini kerap menjadi lokasi penyitaan dan serangan kapal.
Jalur sempit ini dilalui sekitar 20 juta barel minyak mentah per hari pada 2024, setara hampir 20 persen konsumsi minyak cair global, menurut data Administrasi Informasi Energi AS (EIA).
Asosiasi pelayaran BIMCO memperingatkan bahwa kapal-kapal komersial yang memiliki keterkaitan dengan Israel atau Amerika Serikat berpotensi menjadi target.
Situasi kian memburuk setelah Garda Revolusi Iran dilaporkan memperingatkan sejumlah kapal bahwa Selat Hormuz “pada dasarnya ditutup”, meski belum ada perintah penutupan resmi.
Perusahaan pelayaran Jerman, Hapag-Lloyd, mengumumkan penghentian seluruh pelayaran melalui Selat Hormuz hingga pemberitahuan lebih lanjut.
Raksasa pelayaran lainnya, termasuk Maersk, juga memperingatkan pelanggan soal potensi keterlambatan pengiriman akibat pengalihan rute.
Grup pelayaran Prancis CMA CGM menyatakan seluruh kapalnya di Teluk telah diperintahkan untuk “mencari perlindungan”.
Perusahaan itu juga menangguhkan pelayaran melalui Terusan Suez dan akan mengalihkan rute kapal melalui Tanjung Harapan di Afrika Selatan, yang memperpanjang perjalanan hingga ribuan kilometer.
Data dari situs analitik maritim Marine Tracker menunjukkan lalu lintas kapal di kawasan tersebut merosot tajam, dengan sejumlah kapal tanker minyak berbalik arah atau berhenti di sekitar selat.
Pemerintah Amerika Serikat turut memperingatkan kapal-kapal agar menjauhi kawasan Teluk akibat aktivitas militer yang sedang berlangsung.
Sementara itu, maskapai penerbangan juga terus menangguhkan penerbangan di sejumlah wilayah Timur Tengah menyusul laporan adanya serangan baru di Teheran.
Situasi ini menambah tekanan terhadap perdagangan global, khususnya pasokan energi, mengingat peran strategis Selat Hormuz sebagai salah satu titik sempit maritim terpenting di dunia.Seperti dikutip MarineTraffic, Selasa (3/3), Lalu lintas kapal di Selat Hormuz anjlok tajam di tengah meningkatnya ketegangan Kawasan.
Aktivitas pelayaran di jalur strategis tersebut berubah signifikan setelah serangan terbaru Amerika Serikat terhadap Iran dan eskalasi yang menyusul di kawasan.
Berdasarkan analisis lalu lintas waktu nyata, jumlah kapal yang melintas turun sekitar 70% setelah pukul 16.00 UTC pada 28 Februari, dibandingkan dengan 12 jam sebelumnya.
Data pemutaran ulang dari MarineTraffic menunjukkan perubahan perilaku kapal yang mencolok dalam tiga hari terakhir.
Terlihat sejumlah kapal melakukan putar balik, berhenti sementara, memperlambat kecepatan, hingga mengalihkan rute di menit-menit akhir, terutama setelah peringatan keamanan maritim dikeluarkan.
Rekaman aktivitas tersebut memperlihatkan bagaimana ketegangan geopolitik secara langsung memengaruhi arus pelayaran di salah satu jalur energi terpenting dunia.
Di sisi lain, sejumlah klub asuransi maritim terbesar dunia memutuskan menghentikan perlindungan risiko perang bagi kapal yang memasuki Teluk Persia mulai 5 Maret.
Lebih dari separuh anggota International Group of Protection and Indemnity Clubs (IG) akan otomatis mengakhiri pertanggungan risiko perang sejak tengah malam waktu London pada 5 Maret jika kapal berlayar ke Teluk Persia, perairan sekitarnya, atau wilayah perairan Iran, berdasarkan pemberitahuan yang dilihat Bloomberg. (DK)