Permintaan domestik lemah, aktivitas pabrik China menyusut
Selasa, 03 Maret 2026

TIONGKOK - Aktivitas manufaktur China diperkirakan kembali menyusut pada Februari, menandai kontraksi dua bulan berturut-turut di tengah lemahnya permintaan domestik dan investasi.
Menurut survei Reuters terhadap 27 ekonom memproyeksikan indeks manajer pembelian (PMI) resmi turun ke 49,1 dari 49,3 pada Januari, tetap di bawah ambang 50 yang memisahkan ekspansi dan kontraksi. Data tersebut dijadwalkan rilis Rabu.
PMI sempat keluar dari zona kontraksi pada Desember dengan naik ke 50,1 setelah delapan bulan tertekan, namun sepanjang 2025 sektor manufaktur masih lesu, mengutip dari Reuters.
Penyesuaian musiman untuk libur Tahun Baru Imlek, yang berlangsung sembilan hari pada 15- 23 Februari, dinilai belum sepenuhnya mencerminkan dampak penutupan pabrik secara luas.
Pembuat kebijakan menahan stimulus tambahan pada kuartal akhir 2025, optimistis ekonomi terbesar kedua dunia itu mampu mencapai target pertumbuhan sekitar 5% berkat ekspor rekor dan upaya diversifikasi pasar di tengah tarif yang diberlakukan Presiden AS Donald Trump.
Namun ekonom memperkirakan pertumbuhan kuartal I 2026 tetap lemah tanpa dukungan kebijakan baru.
Langkah seperti pemangkasan suku bunga terbatas atau penurunan giro wajib minimum bank dinilai tak banyak mengangkat ekonomi, setelah pelonggaran serupa pasca pandemi COVID-19 hanya memberi dampak terbatas.
Perdana Menteri Li Qiang dijadwalkan mengumumkan target pertumbuhan resmi 2026 pada pembukaan sidang tahunan parlemen pekan ini.
Jajak pendapat Reuters sebelumnya memperkirakan pertumbuhan melambat ke 4,5% tahun ini dan bertahan di level tersebut pada 2027.
Biro Politik Partai Komunis pekan lalu menjanjikan kebijakan ekonomi yang lebih proaktif untuk menstabilkan lapangan kerja dan mendorong permintaan domestik.
Analis juga memperkirakan pemerintah akan kembali menegaskan komitmen mengatasi kelebihan kapasitas industri, termasuk pengurangan subsidi dan penerapan batas bawah harga di lebih banyak sektor. (DK)