Australia dominasi LNG dunia tapi hadapi krisis gas domestik. Mengapa?

Senin, 24 November 2025

image

JAKARTA – Australia masih menjadi eksportir Liquefied Natural Gas (LNG) terbesar ketiga di dunia, di bawah Qatar dan Amerika Serikat. Namun fondasi yang menopang posisi tersebut mulai melemah.

Dua proyek LNG Australia memang memberikan kabar positif. Pertama, Proyek Barossa yang ditargetkan beroperasi pada September 2025 untuk memasok Darwin LNG. Kedua, keberhasilan pengeboran ConocoPhillips di Cekungan Otway pada November. Meski demikian, keduanya belum cukup untuk menutup ketidakseimbangan struktural yang kian mendalam dalam sistem gas nasional Australia.

Mayoritas produksi gas berada di Australia Barat dan Queensland, jauh dari pusat populasi di wilayah tenggara yang sangat bergantung pada pasokan tersebut. Sementara itu, menurut oilprice.com, proyek-proyek baru kesulitan memenuhi komitmen ekspor sekaligus menjawab permintaan domestik yang terus meningkat.

Investasi baru juga tertahan akibat regulasi yang semakin ketat dan persyaratan lingkungan yang lebih berat. Hal ini membuat prospek jangka panjang industri gas Australia semakin rapuh, meski posisinya sebagai eksportir utama masih bertahan.

Sejak 1960-an, Australia memiliki rekam jejak kuat dalam eksplorasi hidrokarbon, dengan penemuan rata-rata setara satu miliar barel per tahun. Namun sejak 2015, tren tersebut berbalik. Eksplorasi lepas pantai merosot dan kini terkonsentrasi di wilayah barat dan barat laut—daerah dengan populasi kecil, permintaan domestik terbatas, dan akses mudah menuju terminal LNG berorientasi ekspor.

Kondisi geografis memperburuk masalah. Cekungan gas paling produktif, North Carnarvon, berada di lepas pantai barat, sementara dua pertiga penduduk Australia tinggal di timur tanpa jaringan pipa yang menghubungkan kedua wilayah. Akibatnya, sebagian besar penemuan baru otomatis dialirkan ke fasilitas LNG untuk diekspor, bukan ke pasar domestik. Ketimpangan antara lokasi produksi dan konsumsi pun menjadi titik lemah utama dalam sistem energi nasional.

Beberapa tanda perbaikan mulai muncul, meski berskala kecil. Pada Mei 2025, Chevron melakukan pengeboran lepas pantai pertama sejak 2023. Pada November, ConocoPhillips dan mitranya memulai pengeboran dalam Program Otway Basin untuk memperkuat pasokan ke tenggara. Dua minggu kemudian, mereka mengumumkan penemuan gas baru—yang pertama dalam empat tahun—dan merencanakan enam sumur tambahan, meskipun potensi produksi dan total pemulihan sumber dayanya belum dapat dipastikan.

Sementara itu, produksi nasional yang sempat melonjak dua kali lipat antara 2015–2021 (dari 5,5 juta m³/bulan menjadi 13 juta m³/bulan) kini stagnan selama empat tahun terakhir.

Ketidakstabilan paling nyata terjadi di Australia Timur. Permintaan terus meningkat, namun pasokan lokal tak mampu mengimbanginya. Sistem gas timur sangat bergantung pada CSG-LNG Queensland, yang semakin banyak menyerap gas dari pasar domestik. Ketika kontrak-kontrak jangka panjang berharga murah berakhir pada 2016–2019, harga domestik melonjak dan mengikuti harga LNG Asia (netback price), menjadikan gas berperan sebagai komoditas global, bukan lagi utilitas domestik.

Setiap musim dingin, aliran gas ke selatan tersendat karena keterbatasan jaringan pipa, memicu lonjakan harga. Pemerintah kemudian mewajibkan eksportir CSG-LNG menawarkan volume yang belum terkontrak ke pasar domestik. Selain itu, diberlakukan batas harga A$12/GJ sejak 2023 hingga 2033. Namun kebijakan ini dinilai menghambat sinyal harga yang dibutuhkan untuk mendorong investasi baru. (DK)