CIO DBS ungkap alasan perak tak akan bisa kalahkan emas

Selasa, 03 Maret 2026

image

JAKARTA – Harga komoditas emas sudah melonjak sekitar 23,8% sejak awal tahun, mendarat di level US$5.365 per pukul 11.05 WIB, Selasa (3/3). Namun, harga logam mulia lainnya, perak, tercatat sudah naik 25,9% ke level US$89.

Meski demikian, Chief Investment Office DBS Bank meyakini bahwa perak bukanlah merupakan aset yang berguna untuk diversifikasi portofolio investasi.

Dalam laporan yang diterima IDNFinancials.com Senin (2/3), Goh Jun Young, Investment Strategist DBS Bank, menjelaskan bahwa perbedaan sumber permintaan kedua logam mulia ini menjadi salah satu faktor penentu pergerakan harga komoditas.

“Perak memiliki proporsi permintaan yang tinggi untuk keperluan industri (sekitar 60%). Pengaruh dari permintaan industri ini membuat perak lebih rentan mengalami koreksi harga di tengah pelemahan ekonomi,” jelasnya.

Di sisi lain, proporsi permintaan emas untuk sektor industri hanya berkisar di level 10%, sehingga, menurut Jun Young, akan lebih tahan banting menghadapi volatilitas ekonomi.

Selain itu, cakupan pasar emas jauh lebih tinggi. Menurut data World Gold Council (WGC) per Februari 2025, ukuran pasar emas mencapai US$37,2 triliun – 7,4 kali lipat lebih besar dari ukuran pasar perak yang hanya mencapai US$5 triliun.

“Jika kita berbicara hanya sebagai investasi, [ukuran pasar] perak bahkan menjadi lebih kecil lagi dibandingkan emas,” tambahnya.

Hal ini, menurutnya, membuat perak lebih menarik banyak spekulan, dan membuat harga lebih volatil. Berdasarkan pantauan IDNFinancials.com, perak memang sempat ambles hingga 30,9% hanya dalam tiga hari di akhir Januari lalu.

Perak sempat menyentuh harga tertingginya sepanjang masa (ATH) di level US$114,1 pada 28 Januari 2026, sebelum terjun bebas ke level US$78,8 pada 31 Januari. Setelah rebound pun, perak kembali tersungkur hingga ke level US$68,8.

Sebagai perbandingan, penurunan harga emas di akhir Januari hanya mencapai 10,5%, dari US$5.321,06 pada 28 Januari ke US$4.763,10 per 31 Januari. Namun, kini, harga emas sudah memantul kembali dan menyentuh US$5.365.

Terakhir, menurut Jun Young, reputasi emas sebagai aset safe haven sudah terbentuk sejak lama, dan menguat seiring waktu. Bank sentral dunia juga telah mengadopsi emas sebagai salah satu kategori cadangannya sejak berabad-abad lalu.

“Kita telah mengakui Gold Standard Act sebagai pondasi sistem moneter internasional dalam berbagai titik di sepanjang sejarah,” ujarnya.

Melihat ke dalam negeri, harga emas batangan produksi PT Antam (Persero) Tbk (ANTM) juga telah melonjak 24,8% sejak awal tahun. Meski hari ini melandai Rp13.000, harga jual masih menembus Rp3,12 juta.

Sejalan dengan koreksi tersebut, setelah mencatatkan peningkatan harga yang signifikan dalam sehari, kemarin, Senin (2/3) – saham-saham komoditas emas di Bursa Efek Indonesia (BEI) merosot pada akhir sesi I perdagangan Selasa (3/3).

ANTM, misalnya, ambles 2,4% ke level Rp4.500. PT Archi Indonesia Tbk (ARCI) bahkan merosot 3% ke Rp1.935, PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) ambles 3% ke Rp980, dan PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) turun 2% ke Rp8.525.

Tak hanya emiten tambang emas, emiten industri emas hilir PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA) juga merosot 2,8% ke level Rp3.160 per lembar pada pukul 12.00 WIB, Selasa (3/3). (ZH)