Minyak dunia melonjak 13%, Amerika siapkan cara meredam

Selasa, 03 Maret 2026

image

JAKARTA - Amerika Serikat akan mengambil langkah untuk meredam kenaikan harga energi setelah lonjakan harga minyak akibat konflik dengan Iran. Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, mengatakan pemerintah telah mengantisipasi potensi gangguan tersebut.

“Mulai besok, Anda akan melihat kami meluncurkan fase-fase tersebut untuk mencoba mengurangi dampaknya. Kami sudah mengantisipasi ini bisa menjadi masalah,” kata Rubio kepada wartawan di Capitol Hill, Senin, dikutip Reuters (2/3).

Rubio, menyebut Menteri Keuangan Scott Bessent dan Menteri Energi Chris Wright akan mengumumkan rencana tersebut pada Selasa. Presiden Donald Trump dijadwalkan bertemu dengan kedua pejabat itu pada pukul 14.00 waktu setempat, menurut agenda Gedung Putih.

Harga minyak dan gas melonjak setelah serangan Israel dan AS terhadap Iran serta aksi balasan Teheran yang memicu penutupan fasilitas energi dan gangguan pelayaran di Selat Hormuz, jalur yang dilalui sekitar 20% pasokan minyak dunia.

Di pasar energi, harga minyak mentah Brent sempat naik hingga 13% ke level tertinggi sejak Januari 2025 sebelum ditutup menguat 6,7% menjadi US$77,74 per barel. Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS naik 6,3% ke US$71,23 per barel.

Di tengah kekhawatiran pasar, pemerintah AS menegaskan belum mempertimbangkan pelepasan minyak dari Strategic Petroleum Reserve (SPR). “Tidak ada diskusi sama sekali mengenai SPR,” kata seorang pejabat Departemen Energi kepada Financial Times. Cadangan strategis AS saat ini menyimpan sekitar 415 juta barel minyak. Instrumen tersebut sebelumnya digunakan pada 2022 saat invasi Rusia ke Ukraina mendorong lonjakan harga.

Analis menilai pelepasan cadangan tidak akan cukup menahan guncangan apabila Selat Hormuz ditutup. Pasar juga menanti respons dari OPEC+. Kelompok produsen itu diperkirakan membahas peningkatan produksi dalam pertemuan terjadwal, dengan potensi kenaikan lebih besar dari rencana awal 137.000 barel per hari untuk April. Tambahan pasokan dinilai dapat membatasi harga agar tidak menembus US$100 per barel.

Sebelumnya, kilang minyak Ras Tanura berkapasitas 550.000 barel per hari menghentikan operasi setelah serangan drone di kawasan tersebut. Penutupan dilakukan sebagai langkah pencegahan sambil menilai dampak kerusakan, menurut sumber yang mengetahui situasi itu.

Perlu diketahui, Ras Tanura merupakan pemasok utama solar untuk pasar Eropa dan memproduksi bensin dalam volume lebih kecil. Di kawasan tersebut juga terdapat terminal ekspor terbesar Aramco untuk minyak mentah dan produk turunannya, termasuk tangki penyimpanan dan fasilitas pemuatan. (DH)

Terkait: Diserang drone Iran, Saudi Aramco hentikan operasi kilang Ras Tanura