Selat Hormuz lumpuh, Exxon lebih resilient dibanding Total dan Shell?

Selasa, 03 Maret 2026

image

JAKARTA – Perang terbuka antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran meningkatkan risiko gangguan produksi minyak dan gas global, terutama bagi raksasa energi seperti Exxon Mobil, TotalEnergies, dan Shell. Namun, analis menilai dampaknya tidak seragam, dengan Exxon berada pada posisi yang relatif lebih tahan dibanding dua pesaing Eropanya.

Seperti dikutip Reuters (03/3), dalam catatan riset yang dirilis Minggu dan Senin, analis Jefferies Financial Group menyebut ketiga perusahaan memiliki paparan signifikan di Timur Tengah, kawasan yang kini berada di pusat eskalasi konflik. Serangan AS dan Israel ke Iran pada Sabtu, yang dilaporkan menewaskan pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, mengguncang pasar energi global dan memicu lonjakan harga minyak serta gas.

Konflik tersebut memaksa penutupan sejumlah ladang minyak dan gas, sekaligus menghentikan sementara pelayaran melalui Selat Hormuz, jalur vital ekspor minyak mentah, bahan bakar, dan LNG dari kawasan Teluk. Gangguan di jalur ini langsung memicu kekhawatiran terhadap pasokan energi dunia.

Jefferies mencatat sekitar 29% total produksi TotalEnergies berada di Timur Tengah. Sementara itu, kawasan tersebut menyumbang masing-masing sekitar 20% produksi minyak dan gas Exxon dan Shell. Di tengah ancaman gangguan pasokan, harga energi melonjak tajam. Minyak Brent ditutup naik sekitar 7% ke level US$77,74 per barel, sementara harga gas alam Eropa melesat sekitar 40%.

Analis TD Cowen menilai dampak terbesar berpotensi terjadi pada bisnis LNG Exxon, karena hampir 60% portofolio LNG perusahaan itu terkonsentrasi di Timur Tengah. Namun, ketergantungan tersebut dinilai sebagian terimbangi oleh diversifikasi geografis Exxon di luar kawasan konflik.

Ketiga perusahaan juga merupakan mitra QatarEnergy, perusahaan energi milik negara Qatar. Pada Senin, QatarEnergy menghentikan produksi LNG setelah serangan drone Iran ke fasilitasnya. Qatar menyumbang sekitar 20% pasokan LNG global, sehingga gangguan di negara tersebut berpotensi berdampak luas pada pasar internasional.

Meski demikian, Exxon dinilai memiliki bantalan tambahan. Analis Barclays Betty Jiang mencatat perusahaan itu berpotensi diuntungkan dari mulai beroperasinya proyek Golden Pass LNG di Texas bulan ini, yang dapat mengurangi ketergantungan terhadap pasokan LNG dari Timur Tengah.

Exxon menolak berkomentar mengenai operasinya di kawasan tersebut. Sementara itu, Shell dan TotalEnergies belum memberikan tanggapan resmi. Selain kepemilikan LNG di Timur Tengah, TotalEnergies memiliki produksi minyak dan gas di Uni Emirat Arab, sedangkan Shell memiliki eksposur signifikan di Oman.

Dengan konflik yang masih berkembang dan Selat Hormuz belum sepenuhnya pulih, analis memperingatkan bahwa perbedaan tingkat diversifikasi geografis akan menjadi faktor kunci dalam menentukan ketahanan masing-masing raksasa migas menghadapi krisis energi global yang kian membesar. (DH)