Perang AS-Iran masuki hari ke-4, bursa saham Asia dan rupiah melemah
Selasa, 03 Maret 2026

JAKARTA – Perang antara Amerika Serikat (AS) dan Israel melawan Iran terus membuat kinerja pasar saham dan mata uang di kawasan Asia tertekan.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun 0,96% ke 7.939,77 pada perdagangan Selasa (3/3) hari ini, setelah gagal bertahan di 8.000 pada sesi kedua.
Total transaksi di pasar saham Indonesia mencapai Rp29,88 triliun, termasuk transaksi di pasar negosiasi yang mencapai Rp7,17 triliun.
“Mayoritas indeks bursa Asia bergerak melemah (3/3) dan indeks di bursa Eropa dibuka di teritori negatif, seiring meningkatnya tekanan risiko geopolitik,” jelas analis Phintraco, dalam catatan yang disampaikan kepada investor sore ini.
Analis Phintraco Sekuritas menilai IHSG telah jebol di bawah level psikologis 8.000 dan dari area MA200, yang menjadi support tren jangka panjangnya. Selain itu, indikator MACD Stochastic RSI pada IHSG juga menunjukkan adanya potensi penurunan lanjutan.
“Jika support IHSG di 7.860 tertembus, diperkirakan akan menguji support berikutnya di 7.700-7.800,” imbuh analis Phintraco.
Menurut pantauan IDNFinancials.com, penurunan IHSG terbilang lebih terbatas dibandingkan dengan indeks saham lain. Bursa di kawasan emerging market Asia Pasifik seperti Hang Seng melemah 1,2%, NIFTY India turun 1,24%, SET Thailand ambles 4,04%, dan KOSPI Korea Selatan merosot 7,24%.
Di pasar uang, sebagian besar mata uang juga melemah terhadap dolar AS, bersamaan dengan kinerja indeks dolar yang menguat 0,79%.
Bhat Thailand turun cukup dalam yaitu 0,83% terhadap dolar AS. Won Korea turun 0,61%, rupee India turun 0,55%, dan rupiah melemah terbatas 0,02% ke Rp16.872 per dolar AS.
Meskipun melemah terbatas terhadap dolar AS, nilai tukar rupiah sejak awal tahun telah turun 1,15% atau dari Rp16.680 per dolar AS.
Yuan China jadi satu-satunya mata uang yang menguat terhadap dolar AS, meskipun hanya menguat 0,09%. (KR)