Harga batu bara melesat 8,6% akibat gangguan LNG dari Qatar

Rabu, 04 Maret 2026

image

JAKARTA – Harga batu bara untuk kebutuhan pembangkit listrik mencapai level tertinggi dalam 3 tahun terakhir, setelah pasokan global terganggu akibat penutupan pabrik gas alam cair atau LNG di Qatar.

Di sisi lain, kontrak berjangka batu bara Newcastle periode 1 bulan telah melesat 8,6% ke level US$128,7 per ton pada Senin (2/3) kemarin. Lonjakan ini membuat kontrak berjangka batu bara Newcastle mencapai rekor tertinggi baru sejak akhir 2024.

Laporan Bloomberg pada Selasa (3/3) kemarin menyebut bahwa Qatar telah menyetop produksi LNG di pabrik Ras Laffan, setelah menjadi target serangan drone Iran.

Padahal pabrik ini menyumbang seperlima dari pasokan LNG global dan tidak pernah menghentikan produksinya dalam 30 tahun terakhir.

Penghentian produksi LNG di Qatar juga ikut mendorong lonjakan harga gas alam di Eropa yang mencapai 39%, kenaikan tertinggi dalam 4 tahun terakhir.

Sementara di kawasan Asia, Taiwan yang selama ini banyak mengimpor LNG dari Qatar, bersiap meningkatkan utilitas pembangkit listrik tenaga batu bara jika gangguan pasokan LNG terus berlanjut.

Saham-saham produsen batu bara di Australia melesat pada perdagangan Selasa, dengan kenaikan tertinggi pada harga saham Whitehaven Coal Ltd. dan New Hope Corp. yang mencapai lebih dari 5%.

Saham produsen batu bara di Indonesia juga mencatat lonjakan harga cukup signifikan pada Selasa kemarin, dipimpin PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) yang mencapai 6,82%, PT Bukit Asam Tbk (PTBA) 6,18%, dan PT Golden Energy Mines Tbk (GEMS) 4,62%. (KR)