Harga minyak melonjak 4,7%, tertinggi sejak Januari 2025
Rabu, 04 Maret 2026

JAKARTA - Harga minyak melonjak 4,7% pada Selasa (3/3) dan ditutup di level tertinggi sejak Januari 2025, dipicu eskalasi konflik Amerika Serikat–Israel melawan Iran yang mengganggu pengiriman energi dari Timur Tengah dan memicu kekhawatiran perang berkepanjangan.Kontrak Brent naik US$3,66 atau 4,7% menjadi US$81,40 per barel, penutupan tertinggi sejak Januari 2025. Sementara West Texas Intermediate (WTI) AS menguat US$3,33 atau 4,7% ke US$74,56 per barel, tertinggi sejak Juni.
Seperti dikutip Reuters, sejak konflik pecah pada Sabtu, Brent telah melonjak sekitar 12%.Serangan militer Israel dan AS ke berbagai target di Iran dibalas Teheran dengan serangan di kawasan Teluk dan meluas hingga Lebanon. Situasi ini memperparah gangguan pasokan energi global.Irak, produsen minyak terbesar kedua di OPEC setelah Arab Saudi, memangkas produksi hampir 1,5 juta barel per hari.
Pemangkasan itu berpotensi meningkat karena keterbatasan kapasitas penyimpanan akibat hambatan ekspor.Iran juga menyerang infrastruktur energi dan kapal tanker di Selat Hormuz, jalur vital yang dilalui sekitar 20% pasokan minyak dan LNG dunia.
Sejumlah kapal tanker dan kontainer menghindari jalur tersebut setelah perusahaan asuransi membatalkan perlindungan risiko perang, sementara tarif pengiriman melonjak tajam.Analis dari Standard Chartered menilai respons Iran kali ini lebih luas dibanding langkah simbolis sebelumnya dan menimbulkan risiko nyata terhadap pasokan energi regional.Presiden Donald Trump mengatakan serangan udara diperkirakan berlangsung empat hingga lima pekan, namun bisa lebih lama.
Ia juga menyebut pemerintah AS mempertimbangkan dukungan asuransi bagi kapal tanker minyak.Brent sempat menyentuh US$85,12 per barel, tertinggi sejak Juli 2024, sebelum memangkas kenaikan setelah Trump menyatakan banyak target militer Iran telah dihancurkan.Di sisi lain, India dan Indonesia mulai mencari sumber energi alternatif. Beberapa kilang di China menutup operasi atau mempercepat jadwal perawatan. Qatar menghentikan produksi LNG, Israel menutup sebagian ladang gas, dan Arab Saudi menutup kilang terbesarnya.Perusahaan minyak Saudi, Saudi Aramco, dilaporkan berupaya mengalihkan sebagian ekspor melalui Laut Merah untuk menghindari Selat Hormuz.Lonjakan harga juga terjadi pada produk turunan. Kontrak diesel AS melonjak sekitar 10% ke level tertinggi sejak Oktober 2023, sementara bensin naik hampir 4% menjadi US$2,46 per galon. Margin kilang melonjak ke level tertinggi sejak 2023.Di pasar gas global, harga acuan Belanda, Inggris, serta LNG Eropa dan Asia turut melonjak. Selisih harga Brent terhadap WTI melebar mendekati US$8 per barel, tertinggi sejak November 2022, yang dinilai dapat mendorong ekspor minyak mentah AS.Pelaku pasar kini menantikan laporan persediaan dari American Petroleum Institute (API) dan Energy Information Administration (EIA), dengan proyeksi penambahan stok minyak mentah AS sebesar 2,3 juta barel pada pekan yang berakhir 27 Februari. (DK)